Skip to main content

Utuh atau Separuh

Kamu adalah buku yang sulit aku baca. Namun nyatanya, melalui seutas sinopsis yang kubaca ini, akhirnya aku menaruh hati dengan tiba-tiba. Jika berkenan, bolehkah aku membacanya dengan seksama hingga selesai? Setelah itu kau boleh kembali, sebab aku tau bahwa kamu memang tidak bisa aku miliki dengan utuh ataupun separuh.

Kamu, sesuatu yang hanya bisa aku lihat dengan samar. Banyak lembar yang ingin aku baca, melafalkan daftar isi yang telah mencuri perhatianku akhir-akhir ini. Jika selesai sudah aku membacanya, aku akan tau seberapa pantas aku untuk memiliki buku ini. Ah, apa mungkin bukunya sudah dimiliki dengan penuh? 

Mungkin aku adalah seorang pembaca yang penakut. Sebab, untuk sekadar menatapnya saja aku ragu. Apa lagi membaca dengan seksama. Aku takut menemukan bab yang berisi tentang seseorang yang kau cintai. Aku belum begitu siap untuk jatuh dan terkapar dengan patahan harapan yang kupunya.

Tidak apa-apa, aku cukup tau untuk ini. Terima kasih, ya? Sudah mampir di beberapa kesempatan untuk bercanda dan bersapa. Sedikit namun membekas. 

Aku tidak akan memaksakan diri, sebab aku tahu bahwa aku akan selalu kalah dalam hal mengenalmu, dan aku adalah orang baru yang tidak tahu apa-apa.

Semoga, semua berjalan dengan baik, aku kembali melangkah dengan kekosongan dan kau melangkah dengan lembar yang tak pernah kau selesaikan.

Comments

Popular posts from this blog

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...

Merayakan Kekalahan

Di dunia yang luas ini, entah kenapa aku harus mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Nampak bodoh emang, tapi aku bisa apa? Menjatuhkan hati kepadamu bukan sebuah pilihan, sebab semuanya terjadi di luar kendaliku.  Aku mencintai segala rumit yang ada dalam kepalamu. Mencintai sesuatu yang tidak orang lain lihat dengan semestinya.  Sayangnya, aku tidak setabah itu dalam memahami kenyataan. Aku tidak sekuat itu untuk melihat nanar mata yang masih lekat menyimpan masa lalu. Kamu sudah melalui banyak hal, bertumbuh, hancur, lalu terbentuk lagi. Proses yang kamu lalui bersama seseorang yang masih kamu ingat dengan sangat. Perjalanan waktu 7 tahun bukan hal yang mudah memang, dan aku yang baru saja datang ini seperti orang bodoh yang tidak mengerti bagaimana kamu dan isi kehidupanmu. Seharunya, waktu kamu bilang "cintaku habis di masa lalu" aku mundur dan sadar bahwa akan ada banyak hal pahit jika aku terus melangkah maju. Seharusnya, aku tidak membuka pintu i...