Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2020

Bandung dan ceritanya

Mari kita berbincang. Aku akan ceritakan Bandung kepadamu. Perihal hujan yang sederhana juga deras yang memikat. Terjebak berdua pun rasanya aku bahagia, sebab rintik yang jatuh akan menjadikan sejarah bagi kita. Masih dalam basah hujan, aku akan tetap berharap, kita akan terus seperti ini ; berdua. Entah hujan atau tidak.  Tidak lupa, aku akan hidangkan secangkir teh juga sepiring colenak tanpa gula, sebab dengan senyummu saja aku yakin diabetesku akan kambuh lagi.  Perlu kamu tahu, Bandung layaknya ibu. Bukan hanya tempat aku lahir juga berteduh, apalagi destinasi wisata sana sini. Bagiku Bandung adalah ibu yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.  Ingatkah sejarah Bandung Lautan Api?  Para pejuang lebih memilih membumi hanguskan kota ketimbang harus menjadikan kotanya sebagai markas sekutu. Begitu cintanya mereka pada kota yang konon diciptakan oleh Tuhan kala ia sedang tersenyum.  Mari beralih dari sejarah.  Bandung dengan segala ruas jalan yang m...

Bertamu Membawa Pilu

Untuk kau yang pernah aku jadikan rumah, terima kasih telah singgah. Seharusnya aku sadar, seseorang yang masuk tidak melulu akan menetap lalu mengikat. Aku lupa, bahwa seseorang yang masuk bisa saja hanya ingin bertamu. Maaf, Jika hatiku sudah lanjur jatuh pada ramahnya ketukan pintu pun percakapan yang sangat hangat. Sebab itu aku mampu jatuhkan hati pada seseorang yang sudah menarik seluruh perhatianku sedari awal kita bertemu. Maaf, aku sudah lancang dengan menulis ini. Setelah obrolan panjang dan berjalan menelusuri sudut kota, aku pikir semua akan tetap baik-baik saja. Lepas dari sunyi paling berisik, kita tidak lagi pernah saling menemukan.  Aku mencarimu, dan kau tidak mencariku. Nyatanya, perpisahan kau ucapkan dalam percakapan usai kita berkelana hingga suntuk. Kau memang hanya ingin bertamu, namun ingatanku tentangmu menjadi salah satu eksistensi dalam rumitnya pikiranku. Kau selalu ada, tanpa jeda tanpa alpa.

Pernah

                                                                  @yuliseee Untuk kamu yang pernah ditinggalkan karena tergantikan. Untuk kamu yang pernah merasa cemburu tapi tak berhak. Untuk kamu yang pernah dianggap tidak pernah ada padahal selalu ada. Untuk kamu yang pernah merindukan seseorang yang bukan milikmu hingga rindunya kau pendam. Untuk kamu yang pernah dikecewakan oleh seseorang yang kamu percaya. atau apa pun itu, Menangislah hingga kau sembab, tidak apa-apa. menangis bukan suatu yang salah dan lemah. Sebab perihal perasaan, itu tidak mudah untuk dihadapi apa lagi kau anggap sebagai kebiasaan yang membuatmu harus tetap terlihat baik-baik saja. setelah itu, kau harus menyadari akan satu hal ; hargai dirimu sendiri. Jangan memperburuk keadaan dengan terus mengingat apa-apa yang telah pergi. Tuhan Maha Tahu, Dia...

Kamu yang fana

Pada sudut malam yang mulai senyap. Aku tidak bisa lagi menatap kepada kamu yang sudah tidak lagi ingin menetap.  Jika kau adalah angka pada delik jam, Maka aku tidak akan menemukan kau dengan nyata. sebab kau adalah angka fana tiga belas yang tidak akan kunjung nyata dalam harapan. Meski senja terus membaluti rindu yang kian tak pernah padam terus menanti seulas nama yang kian semakin tenggelam Semua hanya sekadar ilusi, tentang senyum milikmu yang terus menolak waktu untuk mempertemukan antara aku dan keraguanku. Kita banyak menelusuri kota dengan sepeda motor apa adanya melewati banyaknya bangunan berbagai rupa kita berbagi cerita dan berpapasan mata pada kaca  kau malu, aku pun malu lalu kita tertawa. ya, itu adalah masa lalu semua terbelenggu  dalam jiwa yang amat pilu harapan sudah menjadi semu tertanam lalu berlalu bahagialah kamu. Jika saja diperbolehkan, aku ingin menghilang dengan atau tanpamu di tempat pertama kita bertemu.