Untuk kau yang pernah aku jadikan rumah,
terima kasih telah singgah.
Seharusnya aku sadar, seseorang yang masuk tidak melulu akan menetap lalu mengikat.
Aku lupa, bahwa seseorang yang masuk bisa saja hanya ingin bertamu.
Maaf,
Jika hatiku sudah lanjur jatuh pada ramahnya ketukan pintu pun percakapan yang sangat hangat.
Sebab itu aku mampu jatuhkan hati pada seseorang yang sudah menarik seluruh perhatianku sedari awal kita bertemu.
Maaf,
aku sudah lancang dengan menulis ini.
Setelah obrolan panjang dan berjalan menelusuri sudut kota, aku pikir semua akan tetap baik-baik saja.
Lepas dari sunyi paling berisik, kita tidak lagi pernah saling menemukan.
Aku mencarimu, dan kau tidak mencariku.
Nyatanya, perpisahan kau ucapkan dalam percakapan usai kita berkelana hingga suntuk.
Kau memang hanya ingin bertamu, namun ingatanku tentangmu menjadi salah satu eksistensi dalam rumitnya pikiranku. Kau selalu ada, tanpa jeda tanpa alpa.
Comments
Post a Comment