Skip to main content

Posts

Showing posts from 2023

Kembali Merapikan Kegagalan

  Untuk kamu yang sedang melalui hal hal berat belakangan ini, terima kasih ya? Karena sudah mau bertahan sampai saat ini. Terima kasih sudah mau bersabar untuk bisa merapikannya satu persatu. Terima kasih, karena kamu tidak mengambil langkah untuk mengakhiri segalanya. Jika hari ini kamu sudah cukup lelah, maka ajak dirimu sendiri untuk rehat sebentar saja. Lakukan apapun yang kau suka. Mendengarkan lagu favorit, menonton film terbaru, membeli barang idaman, makan makanan yang kausuka atau mungkin cukup dengan merebahkan diri di kamar tanpa harus memikirkan ini dan itu. Kita sudah mengupayakan sesuatu dengan sebaik mungkin. Kita tidak bisa mengatur bagaimana hasil yang akan kita dapatkan nanti. Tuhan Maha Tahu atas segala proses yang dilalui setiap manusia. Toh, jika kita gagal pun itu artinya Tuhan percaya, bahwa kita mampu untuk berbesar hati. Semua ada waktunya masing-masing. Kita cukup berupaya dan bersabar. Perlu disadari, kita sudah berjalan sejauh ini buka...

Sudut Bulan April

Dalam banyaknya narasi yang kerap ganjil, seseorang menemuiku ke sudut bulan April. Sore itu ditemaninya dengan gerak angin yang tenang, burung gereja yang memburu pulang, pun ilir mesra yang teduh juga indah. Kita berbincang tak habis-habis, dan aku masih saja tak lepas terpaku pada kehangatan yang kudekap sore itu; aku mengingat dengan sangat cerita yang sudah kau bagi padaku; aku bersumpah aku tak melewati sedikit pun setiap kalimatmu; aku lebih senang berlama-lama denganmu, merekam setiap tingkahmu, menghitung satu-satu gerat halus di wajahmu, menyelami bola matamu, dan mencubit tanganmu sesekali. ;tentu saja, aku sangat pandai merahasiakan kekaguman itu, ;sebab helainya kini sedang kurindukan dan sulit kuredam dengan apik. Kau pun seketika tak lagi banyak bicara, diam, dan sesekali memalingkan wajah itu. apa kita sedang merona berdua? atau jangan-jangan hanya aku saja? kemudian kita pulang dengan banyak monolog dengan tanda tanya. Mungkin aku 𝒋𝒂𝒕𝒖𝒉 𝒄𝒊𝒏...

Terhenti Pada Titik

Aku kira setelah bertahun-tahun aku memilih sendiri dan akhirnya aku memilih untuk kembali menerima ketukan seseorang akan menjadikan aku kembali pulih pelan-pelan. Aku kira, aku akan mendapatkan rumah tempat aku pulang dari lelahnya kehidupan. Ternyata tidak, seseorang yang aku kira akan menjadi rumah nyaman tempat aku bercerita malah menjadikanku sepi yang sama saja. Aku tetap merasa harus berjuang sendirian, aku tetap harus berjalan sendirian, dan aku harus tetap menyeka lelahku sendirian.  Jika sibuk adalah alasanmu, lalu kapan kita bisa bersua? Kabar tentang kau pulang saja sudah tidak lagi aku dengar meski ini adalah hal sederhana yang bernilai besar bagiku. Entah komunikasi ataupun pertemuan, semuanya berangsur hilang dari permukaan.  Dan aku tetap di sini, menyimpan banyak cerita yang lagi-lagi harus aku telan sendirian. Sebab nyatanya, kamar adalah bentuk dari tubuh yang selalu setia mendengarkan tawa dan tangis setiap malamnya. Terima kasih, sebab pertemuan di siang ...