Dalam banyaknya narasi yang kerap ganjil,
seseorang menemuiku ke sudut bulan April.
pun ilir mesra yang teduh juga indah.
Kita berbincang tak habis-habis, dan aku masih
saja tak lepas terpaku pada kehangatan yang kudekap sore itu;
aku mengingat dengan sangat cerita yang sudah kau
bagi padaku;
aku bersumpah aku tak melewati sedikit pun setiap
kalimatmu;
aku lebih senang berlama-lama denganmu, merekam setiap
tingkahmu, menghitung satu-satu gerat halus di wajahmu, menyelami bola matamu,
dan mencubit tanganmu sesekali.
;tentu saja, aku sangat pandai merahasiakan
kekaguman itu,
;sebab helainya kini sedang kurindukan dan sulit
kuredam dengan apik.
Kau pun seketika tak lagi banyak bicara, diam, dan
sesekali memalingkan wajah itu.
apa kita sedang merona berdua?
atau jangan-jangan hanya aku saja?
kemudian kita pulang dengan banyak monolog dengan
tanda tanya.
Mungkin aku 𝒋𝒂𝒕𝒖𝒉 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂
sendirian.
Comments
Post a Comment