Skip to main content

Posts

Showing posts from 2022

Tanpa Judul

Hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu akan berdampak hingga kapanpun. Hal ini tuh kerasa banget, makin kesini bukannya lupa, malah semakin nampak jelas. Ada banyak ketakutan untuk sekadar mengenal orang baru. Takut tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, takut tidak diterima dengan apa yang kupunya. Berat banget rasanya.  Kenapa perasaan itu ada? karena aku pernah, bahkan berkali-kali tidak diterima dengan baik oleh lingkungan karena fisik yang tidak menarik. Berkali kali aku harus menelan semua yang aku terima bertahun-tahun. Setiap kali aku mendapatkan "omongan jahat" itu, aku selalu menerimanya dengan pasrah dan sadar diri. Speak up? ah rasanya akan sulit, yang ada nanti malah dibilang baperan hehe diteriakin jelek, ga diajak, gaada tebengan, atau bahkan obrolan yang mengarah tentang fisik yang tidak menrik inilah yang aku terima dari tahun ke tahun. Capek rasanya, sebelum tidur selalu kebayang masa-masa itu, suara-suaranya masih berisik dalam kepala. Bahkan masih nam...

Rumpang

Sesekali, kau perlu sambangi kursi itu Ia lengang dimakan waktu Sedang kopi dan teh itu,  masih utuh meski asapnya hilang ditelan abai Televisi adalah teman langgeng tempat ia berdamai meski berdebu, ia tetap nyala dalam tenang Bentuk guratannya semakin nampak tersurat raut senyumnya masih menyala dengan hangat Pun tangannya, Ia masih mampu menuntunmu dengan sentosa Meski langkahnya renta tertelan usia  Jemalanya penuh sudah Rimba dipenuhi memori hari tua yang lelah Ia masih di sana, duduk dengan remote yang cacat Menunggu ketukan yang dibuka tanpa syarat Pulanglah, dengan atau tanpa euforia Mereka hanya perlu anaknya ada bukan rupiah apalagi takhta Pulanglah, beri jeda dari jarak yang sudah rumpang 

Tertinggal

Pernah gak kamu merasa tertinggal? Merasa bahwa kamu hanya berjalan di tempat sendirian, sedangkan teman-temanmu sudah berjalan lebih depan dari dirimu.  Semua nampak menyedihkan, bahkan keadaan mungkin sudah memaksamu untuk menarik diri lebih sadar lagi. Bahwa inilah waktunya kita berbenah, melewati banyak hal sendirian. Sebab rasanya, dirimu sendirilah yang mampu membersamai.  Semua berjalan dan berlari melampaui dirimu, meninggalkan dan nampak tidak akan peduli seberapa jatuhnya kamu. Peluk saja tubuhmu sendiri, usap saja air matamu sendiri, dan berterimakasihlah pada dirimu sendiri. Kamu akan tumbuh dengan segala proses yang kau lalui. Cepat atau lambat, fase ini akan kau lewati dengan baik. Jangan berhenti lantas menyerah, ya?

Aliran Duka

Hidup akan tetap berjalan, apapun yang terjadi Begitupun dengan patah hatimu hari ini Perasaan yang kau dekap diam-diam Harus berakhir duka dalam-dalam Bisakah kupeluk tubuh itu? Ia sudah berantakan dengan amat Pada wajahnya, ia masih mengalirkan duka Dan dadanya masih berdegup menahan luka   Pada tembok kamarnya, Tersimpan banyak memori paling rahasia Ia menjadi saksi atas segala keluh yang tersisa Seluruhnya terekam dengan sempurna tanpa ia paksa   Bisakah kubagi separuh duka ini? Entah pada meja yang pernah bersulang tawa Atau pada cermin tempat kita bertegur sapa Namun percayalah, aku sudah menyiapkan satu porsi tabah yang tak kalah besar dari setiap harapan yang aku dekap dalam-dalam.

Menjemput Tenang

Pagi ini, kita tertinggal lagi dari pembebasan diri. Ia seperti jarum jam yang mati tanpa daya, ia berputar tanpa arah. Seperti anak yang berdusta pada titah seorang ibu. Berjalan keluar rumah dan berbaring di pelataran jalan dan berharap mati kelaparan. Dalam kepalanya bergeriliya, ia hampir lupa. Bahwa dunia tidak sesempit kamar rumahnya. Malam ini, ia mulai bangun dari kepasrahannya. Melihat seisi kamar yang masih utuh, belum terjamah oleh ketenangan. Ia menghadap tembok, berbicara dengan sukarela. Sebab ia tau, pada tembok inilah semua memori terekam dengan jeli. Entah tangisan ataupun amarah, semua disaksikan tembok kamar yang berdiri tanpa kaki. Entah sudah berapa lembar kalender yang ia lewatkan, sebab ia sudah tak lagi peduli pada waktu yang hanya bergeser tanpa mau menunggunya kembali pulih. Pada rumahnya, ia lupa arah menuju pintu keluar. Ia lupa bagaimana warna cahaya matahari yang harusnya masuk melalui celah antara jendela dan kain gorden. Matanya basah lagi, ia tida...

Tubuh yang harus kurengkuh

Apa yang tersisa dari tangisanmu malam tadi? Mata sembab atau asa yang luruh tanpa jeda? Ia abu-abu, entah pura-pura atau bahagia sungguhan. Bisakah kita bicara sebentar? Kepada tembok kamar yang diam-diam menjadi tempat paling rahasia. Ia menyimpan banyak memori, tentang bagaimana ia menyaksikan sosok yang menangis di balik selimut sesenggukan. Di atas bantal yang ia jadikan topangan kepala yang penuh dengan beban. Tidak ada cahaya apapun, meski sesekali ponsel itu berdering dengan senyap. Bisakah kupeluk dahulu tubuh itu? Aku ingin memastikan, bahwa hidup bukan tentang gagal lagi dan berhenti. aku ingin menepuk pundak yang semakin menyusut itu, ada harapan yang perlu diraih lagi. Sebab hidup masihlah panjang. Kita perlu bergerak dan bertumbuh. Bukan diam dan mati memungut pasrah. Tetaplah menjadi dirimu dengan versi terbaru yang jauh lebih baik lagi. Selamat mengarungi usia, ia tidak abadi. Namun ia layak kau beri kesempatan lagi. 

Perempuan Atas Haknya

Perempuan, tidak hanya dihadapkan pada pilihan, perempuan seringkali dihadapkan oleh tekanan sosial yang lahir dari stigma masyarakat. ada kalanya perempuan terjebak dalam lingkungan yang menganut stigma kuno. Perempuan yang kakinya terikat oleh pilihan, ia harus memilih antara menjadi ibu rumah tangga atau mengejar karir yang tinggi. Perempuan yang langkahnya menjadi sempit, ia diterkam kebebasannya dalam mencari relasi dan wawasan. Perempuan yang pendidikannya terputus, ia dilucuti oleh realitas kuno yang mana perempuan hanya akan berakhir di dapur belaka.  Padahal, jauh dari itu semua. Perempuan berhak atas pilihannya sendiri, bukan atas tuntutan dan tekanan yang membuat bahunya menjadi nampak terlihat lemah. Perempuan, entah memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, wanita karir ataupun menjadi keduanya adalah sebuah pilihan yang lahir atas kehendaknya sendiri.  Perempuan berhak atas segala mimpi dan cita-citanya, ia berhak memiliki suara yang sama dengan laki-laki. Perempua...
Dalam kepalaku,  ada banyak narasi di kepala tentang pertukaran perasaan yang lagi-lagi gagal untuk tuntas. alih-alih kuperas air mataku lamat-lamat kulempar dengan pasrah pada langit yang sendu sedari pagi Mungkin, kau akan bertanya sudah kenyangkah aku dengan kegagalan? Seolah-olah harapan yang kugenggam memiliki sembilan nyawa ia kuat, lebih kuat dari hari kemarin Ia tertawa dengan girang, memungut kilat yang berceceran diambang langit menuju sore Aku, masih tersungkur dengan perasan air mata yang tak jua habis pun mati Ia masih kuat, menggendong harapan yang tak habis dibunuh oleh realitas

Utuh atau Separuh

Kamu adalah buku yang sulit aku baca. Namun nyatanya, melalui seutas sinopsis yang kubaca ini, akhirnya aku menaruh hati dengan tiba-tiba. Jika berkenan, bolehkah aku membacanya dengan seksama hingga selesai? Setelah itu kau boleh kembali, sebab aku tau bahwa kamu memang tidak bisa aku miliki dengan utuh ataupun separuh. Kamu, sesuatu yang hanya bisa aku lihat dengan samar. Banyak lembar yang ingin aku baca, melafalkan daftar isi yang telah mencuri perhatianku akhir-akhir ini. Jika selesai sudah aku membacanya, aku akan tau seberapa pantas aku untuk memiliki buku ini. Ah, apa mungkin bukunya sudah dimiliki dengan penuh?  Mungkin aku adalah seorang pembaca yang penakut. Sebab, untuk sekadar menatapnya saja aku ragu. Apa lagi membaca dengan seksama. Aku takut menemukan bab yang berisi tentang seseorang yang kau cintai. Aku belum begitu siap untuk jatuh dan terkapar dengan patahan harapan yang kupunya. Tidak apa-apa, aku cukup tau untuk ini. Terima kasih, ya? Sudah mampir di beberapa ...