Perempuan, tidak hanya dihadapkan pada pilihan, perempuan seringkali dihadapkan oleh tekanan sosial yang lahir dari stigma masyarakat. ada kalanya perempuan terjebak dalam lingkungan yang menganut stigma kuno. Perempuan yang kakinya terikat oleh pilihan, ia harus memilih antara menjadi ibu rumah tangga atau mengejar karir yang tinggi. Perempuan yang langkahnya menjadi sempit, ia diterkam kebebasannya dalam mencari relasi dan wawasan. Perempuan yang pendidikannya terputus, ia dilucuti oleh realitas kuno yang mana perempuan hanya akan berakhir di dapur belaka.
Padahal, jauh dari itu semua. Perempuan berhak atas pilihannya sendiri, bukan atas tuntutan dan tekanan yang membuat bahunya menjadi nampak terlihat lemah. Perempuan, entah memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, wanita karir ataupun menjadi keduanya adalah sebuah pilihan yang lahir atas kehendaknya sendiri.
Perempuan berhak atas segala mimpi dan cita-citanya, ia berhak memiliki suara yang sama dengan laki-laki. Perempuan berhak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, entah untuk memutuskan keputusan, pendidikan ataupun karir sekalipun.
Pun jika ia memilih untuk mejadi ibu rumah tangga, tentu bukan suatu hal yang rendah. Ibu rumah tangga dengan banyak beban ditangannya.
Kita harus berani keluar dari stigma kuno masyarakat yang menjadikan hal tersebut membudaya dengan begitu lekat. Perempuan bisa menjadi seorang ibu yang baik sekaligus menjadi wanita karir yang sukses. Perempuan bisa memiliki pendidikan yang tinggi, perempuan bisa memiliki andil yang besar dalam sebuah lembaga, instansi atau organisasi.
Perempuan, kita bisa bersuara dengan lantang dengan opini dan keberanian kita terhadap suatu hal. Kita pantas untuk didengarkan, bukan dikesampingkan apalagi diabaikan. Perempuan bisa menjadi apapun yang ia mau, tanpa harus terikat dengan stigma ini itu. Kita, perlu untuk merdeka atas diri kita sendiri.
Comments
Post a Comment