Skip to main content

Perempuan Atas Haknya

Perempuan, tidak hanya dihadapkan pada pilihan, perempuan seringkali dihadapkan oleh tekanan sosial yang lahir dari stigma masyarakat. ada kalanya perempuan terjebak dalam lingkungan yang menganut stigma kuno. Perempuan yang kakinya terikat oleh pilihan, ia harus memilih antara menjadi ibu rumah tangga atau mengejar karir yang tinggi. Perempuan yang langkahnya menjadi sempit, ia diterkam kebebasannya dalam mencari relasi dan wawasan. Perempuan yang pendidikannya terputus, ia dilucuti oleh realitas kuno yang mana perempuan hanya akan berakhir di dapur belaka. 

Padahal, jauh dari itu semua. Perempuan berhak atas pilihannya sendiri, bukan atas tuntutan dan tekanan yang membuat bahunya menjadi nampak terlihat lemah. Perempuan, entah memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, wanita karir ataupun menjadi keduanya adalah sebuah pilihan yang lahir atas kehendaknya sendiri. 

Perempuan berhak atas segala mimpi dan cita-citanya, ia berhak memiliki suara yang sama dengan laki-laki. Perempuan berhak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, entah untuk memutuskan keputusan, pendidikan ataupun karir sekalipun. 

Pun jika ia memilih untuk mejadi ibu rumah tangga, tentu bukan suatu hal yang rendah. Ibu rumah tangga dengan banyak beban ditangannya. 

Kita harus berani keluar dari stigma kuno masyarakat yang menjadikan hal tersebut membudaya dengan begitu lekat. Perempuan bisa menjadi seorang ibu yang baik sekaligus menjadi wanita karir yang sukses. Perempuan bisa memiliki pendidikan yang tinggi, perempuan bisa memiliki andil yang besar dalam sebuah lembaga, instansi atau organisasi. 

Perempuan, kita bisa bersuara dengan lantang dengan opini dan keberanian kita terhadap suatu hal. Kita pantas untuk didengarkan, bukan dikesampingkan apalagi diabaikan. Perempuan bisa menjadi apapun yang ia mau, tanpa harus terikat dengan stigma ini itu. Kita, perlu untuk merdeka atas diri kita sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

2020 Tahun Penuh Pelajaran Baru

Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.  Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggor...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...