Skip to main content

Merayakan Kekalahan

Di dunia yang luas ini, entah kenapa aku harus mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Nampak bodoh emang, tapi aku bisa apa? Menjatuhkan hati kepadamu bukan sebuah pilihan, sebab semuanya terjadi di luar kendaliku. 

Aku mencintai segala rumit yang ada dalam kepalamu. Mencintai sesuatu yang tidak orang lain lihat dengan semestinya. 

Sayangnya, aku tidak setabah itu dalam memahami kenyataan. Aku tidak sekuat itu untuk melihat nanar mata yang masih lekat menyimpan masa lalu.

Kamu sudah melalui banyak hal, bertumbuh, hancur, lalu terbentuk lagi. Proses yang kamu lalui bersama seseorang yang masih kamu ingat dengan sangat. Perjalanan waktu 7 tahun bukan hal yang mudah memang, dan aku yang baru saja datang ini seperti orang bodoh yang tidak mengerti bagaimana kamu dan isi kehidupanmu.

Seharunya, waktu kamu bilang "cintaku habis di masa lalu" aku mundur dan sadar bahwa akan ada banyak hal pahit jika aku terus melangkah maju.

Seharusnya, aku tidak membuka pintu itu. Seharusnya aku abaikan ketukan-ketukan itu. Sebab rasanya, menerima tamu yang masih mengantongi banyak memori masa lalu yang tidak sengaja tumpah ini, akhirnya membuat aku jauh lebih tersadar.

Pun jika ada aku di dalamnya, mungkin itu hanya serpihan kecil yang hampir terhimpit lalu terjatuh terabaikan. Aku tidak memiliki tempat. Aku masih menjadi seorang perempuan naas yang memeras rasa sesaknya sendirian.

Untuk kamu yang masih ingin berusaha untuk menjelaskan, aku rasa semuanya sudah cukup jelas dan cukup aku pahami. Kamu yang entah bisa atau tidak untuk melupakannya, dan aku yang berusaha untuk berjalan mundur dengan mengemas harapan yang sempat kau tawarkan. 

Katanya, Tuhan tidak akan mempertemukan seseorang tanpa ada sebab. Termasuk bertemu dengan kamu yang membuat aku menjadi paham bahwa "Sebesar apapun cinta kita, seluas apapun tabah kita, akan tetap kalah dengan masa lalumya yang sudah memberikan banyak hal dalam proses kehidupanmu dulu"

Selamat merayakan kekalahan.

Comments

Popular posts from this blog

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

2020 Tahun Penuh Pelajaran Baru

Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.  Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggor...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...