Skip to main content

Posts

Showing posts from 2021

Untuk Pertama Kalinya

"Ibu, aku pulang ke Bandung, ya?" Percakapan singkat tentang pulang kepada rumah yang sesungguhnya. Hujan malam ini menuntun kepada duka yang tak berjeda. Jalanan sudah basah, kereta yang membawaku kini sepi dimakan waktu, namun kepalaku riuh membawa dialog antara luka dan kehilangan tadi pagi. Tidak ada yang kukantongi untuk oleh-oleh, sebab tangisan sudah kubawa sebagai bingkisan.  Jauh sebelum hujan luruh dengan deras malam ini, sudah kupersiapkan obat tidur untuku di perjalanan. Sebab aku tahu, perjalanan malam ini akan terasa panjang dan melelahkan.  Kereta yang kutumpangi seakan berjalan terbata-bata. Ia melaju dengan payah, tanpa peduli sudah berapa banyak air mata yang ingin aku tumpahkan pada pelukan yang paling aku butuhkan saat ini.  Belum sampai di pemberhentian pertama, aku sudah lebih dulu terbangun dari tidur yang amat sesak. Kereta, bisakah kau melaju lebih cepat? tangisku sudah kering, namun luka yang kubawa sudah semakin menganga dan amat perih. "Bu, an...

Melawan Ketidakberdayaan

Perempuan dengan segala stigma yang melekat pada diri mereka. Stigma yang lahir dari mulut rahim masyarakat pun sanak saudara. Mereka menganggap bahwa perempuan yang baik adalah mereka yang menikah sebelum usia 25 tahun. Perempuan, sering dihadapkan oleh pilihan yang sebenarnya bisa mereka ambil keduanya. Sejatinya, perempuan memiliki hakikat mengandung, melahirkan, merawat anak dan melayani suami. Namun, apakah hal tersebut menutup kemungkinan jika seorang perempuan bisa mencapai pendidikan dan karir yang tinggi?.  Perempuan berhak untuk mencapai pendidikan dan karir yang tinggi. Sebagaimana impian mereka masing-masing sedari dini. Perempuan berhak bersuara lantang melawan ketidakadilan yang lagi-lagi berpihak pada mereka yang memiliki kekuatan, perempuan berhak melangkah jauh untuk mencapai impian mereka, perempuan berhak melawan ketidakberdayaan yang kini nyata di depan mata. Bagaimana bisa, jika pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dianggap sebagai hal yang tidak perlu di...

SINERGI TOLERANSI DI MASA PANDEMI

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata “Pandemi?” Pandemi seringkali mengingatkan kita banyak hal, termasuk kesulitan. Kesulitan di masa pandemi menanggalkan banyak cerita duka dari berbagai kalangan. Menurut data yang dipublikasikan oleh Tempo.co bahwa jumlah pekerja yang terkena PHK selama bulan Juni 2020 telah mencapai 3,05 juta. Namun, rilis terbaru yang dikeluarkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) jumlah pekerja yang di PHK terdapat 24 juta   sampai dengan tanggal 9 Agustus 2021. Hal tersebut berakibat terhadap ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di desa maupun di kota. Tidak sedikit masyarakat yang masih memilki finasial yang stabil ikut urun tangan untuk saling membantu satu sama lain. Berbagai donasi dari berbagai komunitas maupun pribadi ini lahir untuk semua orang yang layak untuk dibantu. Tidak terbatas oleh perbedaan apapun. Pandemi ini sekaligus menguji kepekaan kita terhadap sesama, sekaligus menjadikan kita untuk lebih mengerti, bahwa ap...

MENJUNJUNG DEMOKRASI DENGAN TOLERANSI

Usia bangsa sudah mulai senja, ribaan histori dari masa ke masa.  Meninggikan demokrasi yang tak lagi serasi. Indonesia kini menginjak usia 76 tahun. Negara yang katanya kaya akan keberagaman. Entah itu agama, bahasa, atau adat sekalipun. Namun, apa yang sudah kita dapatkan dari usia yang semakin renta ini? Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Apa kita sudah benar-benar bersatu padu dalam menjalin kesejateraan bangsa? Atau mungkin kita hanya terbebaskan dari jajahan asing yang dulu porakporandakan tanah kita saja. Sisanya, kita lihat pada Indonesia bagian pelosok. Mengutip pembahasan dari salah satu jurnal yang berjudul “Toleransi: Nilai dalam Pelaksanaan Demokrasi” pengertian luas dari demokrasi itu sendiri adalah “kebaikan dalam kebebasan. Di mana sebuah toleransi menjadi hal penting dari pelaksanaannya demokrasi tersebut. Jadi, toleransi bisa dimaksudkan sebagai kemampuan dan kemauan orang itu sendiri dan masyarakat umum untuk berhati-hati terhadap hak-hak golongan kecil/...

Hilang Tempat

Serintik cerita yang luruh membentuk menjadi sebuah dialog, rentak-hentak menghujam ingatan tentang kita yang tak lagi menjadi satu. Ada banyak tangis di ujung kamar tempat aku mengangkat teleponmu kala itu. Hujan sore tadi, menabur rindu kepada seseorang yang kini sudah asing di telepon genggam.  Di luar rumah ada gemuruh petir carut marut, sedang aku sudah sembab dikurung selimut. Aku mengenangmu sebagai petrikor paling melekat. Ketika basah tanah di pagi hari adalah sisa hujan semalaman tanpa ampun. Aku mengingatmu seperti bias cahaya senjakala yang jatuh di antara garis jendela, tempat aku membalas pesan singkat melalui telepon genggam yang kini sudah sepi dimakan "Selamat tinggal". Aku merindukanmu seperti lagu-lagu lama yang tiba-tiba aku dengarkan melalui kepala yang pernah bersandar pada pundak milikmu itu. Aku merasa sepi dengan mata tertutup dan dada yang berdegup.  Namamu, berputar dengan rapi dalam jemala. Beberapa pernah kuhentikan, sisanya masih riuh memenuhi ru...

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

Semoga

"kok makin tua makin berat ya rasanya?" hidup emang udah kaya komedi putar, naik turun tanpa jeda. Dari segala pikulan masalah yang kau tanggung, ada banyak tepukan semangat dari orang-orang sekitar. "yuk bisa yuk? tetep kuat dan berjuang. Semangat, ya!" mereka menyemangatiku dan membiarkanku berjuang sendirian tanpa peduli bagaimana kondisiku setelahnya.  Untuk kamu yang sedang berusaha mengupayakan segala duka pilu dan beban yang lanjur kalut, beristirahatlah... Sejenak kau ambil waktu, melihat ketenangan dari belah matamu yang akhir-akhir ini terlihat sendu.  Dengarkan lagu-lagu tenang yang mungkin akan membawamu dalam kedamaian.  Setelah itu, kamu boleh kembali pada realita. Kembali dengan dirimu yang jauh lebih baik dari ini. Ingat, kamu hanya perlu menjadi diri sendiri dengan terus bertumbuh lebih baik lagi. Kita hidup untuk diri kita sendiri, selebihnya untuk mereka yang tetap ada bersama kita bagaimanapun keadaannya. Bukan egois, tapi seringkali kita diperbu...

Standarisasi Kehidupan

 "Kapan wisuda?" "kapan nikah?" "Kapan punya anak?" "Kapan nambah anak?" Pertanyaan yang membuat sebagian orang kesal, marah, sedih dan tertekan. Pertanyaan sederhana yang mengakibatkan overthinking. Pertanyaan yang bisa menjadi pembunuhan karakter di depan banyak orang. Usia yang matang atau sudah menginjak 20++ mungkin akan terlihat ringkih oleh pertanyaan ini.  Mereka lupa, bahwa setiap orang punya masa yang berbeda. Usia 22 tidak harus sudah wisuda, usia 24 tidak harus sudah menikah, usia 30 tidak harus punya anak. Semua ada pada porsi dan tempat yang berbeda. Jangan jadikan standarisasi kehidupan menjadi sama.  Setiap orang memiliki keinginan dan pencapaiannya masing-masing. Entah dari sisi apa, kita tidak harus selalu menyalahkan itu. Menikah atau belumnya seseorang adalah haknya, rezekinya, dan sudah menemukan waktu yang tepat. Bukan menikah cepat, tapi menikah di waktu yang tepat. Kapan tepatnya? Tidak harus pada usia yang sudah menjadi s...

Barangkali.

Barangkali, nanti kita bisa duduk berdua tanpa sungkan Menenggak minuman yang kau pesan dengan senang Berkelakar hingga puas pun hingga habis tanpa ampas Sedari pukul tiga sore, Masing-masing dari kita saling mempersembahkan kisah Menceritakan bagaimana sulitnya aku mencintaimu dalam diam Memupuk perasaan dari tahun ke tahun tanpa tau arah pasti Barangkali, nanti kita bisa menjadi sepasang yang membanggakan Saling rengkuh dalam setiap kalah yang kita temui. Bagaimana bisa hadirmu kian tak pernah habis dalam genggaman? Namun, pada akhirnya… Aku akan terbunuh oleh semua andai yang tersusun rapi dalam tulisan Sebab, apa yang aku harapkan kian tak kunjung datang pun apa yang aku perjuangkan tak akan membuahkan kesadaran dengan segala penantian yang aku punya.

Kepada, Ir.

Ir, kita hanya sekadar dua orang asing yang rajin saling melihat unggahan cerita di sosial media. Kita tidak lebih dari itu. Mungkin, kamu akan sedikit bingung, kenapa aku bisa menyukai seseorang yang bahkan saling menyapapun tidak pernah.  Ir, perasaan ini ada sejak dua atau tiga tahun lalu, tanpa alasan dan entah kenapa. Semua ada sejak aku sadar “eh kalo gak salah aku sama dia followan deh di Instagram”. Sejak itu, pertemuan yang tidak sengaja selalu nampak tanpa diminta dan dicari.  Meski aku tahu, hanya aku yang menyadarinya.  Hingga hari ini perasaan itu tetap ada, bodoh memang.. ketika aku memilih untuk diam, sebab aku takut jika akhirnya perasaan ini akan merubah keadaan menjadi lebih buruk. Aku takut, aku terlalu pengecut untuk ini. Maaf, perasaan ini sulit aku redam meski sudah menahun.  Aku cukup tau diri. Cukup tau bagaimana kapasitas aku yang hanya sekadar orang asing di hidup kamu. Oleh sebab itu, aku tidak akan meminta apapun dari kamu. Tidak akan memi...