Skip to main content

Melawan Ketidakberdayaan

Perempuan dengan segala stigma yang melekat pada diri mereka. Stigma yang lahir dari mulut rahim masyarakat pun sanak saudara. Mereka menganggap bahwa perempuan yang baik adalah mereka yang menikah sebelum usia 25 tahun. Perempuan, sering dihadapkan oleh pilihan yang sebenarnya bisa mereka ambil keduanya. Sejatinya, perempuan memiliki hakikat mengandung, melahirkan, merawat anak dan melayani suami. Namun, apakah hal tersebut menutup kemungkinan jika seorang perempuan bisa mencapai pendidikan dan karir yang tinggi?. 

Perempuan berhak untuk mencapai pendidikan dan karir yang tinggi. Sebagaimana impian mereka masing-masing sedari dini. Perempuan berhak bersuara lantang melawan ketidakadilan yang lagi-lagi berpihak pada mereka yang memiliki kekuatan, perempuan berhak melangkah jauh untuk mencapai impian mereka, perempuan berhak melawan ketidakberdayaan yang kini nyata di depan mata. Bagaimana bisa, jika pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dianggap sebagai hal yang tidak perlu dipidana, bahkan dianggap sebagai hal lumrah yang mana lagi-lagi para penegak hukum menyalahkan pakaian. 

Berbicara tentang pelecehan, seringkali kita menemukan mereka dalam keadaan pasrah, dibaluti dengan rasa trauma yang mendalam. Kami, bukanlah pemuas nafsu belaka. Tubuh kami bukan alat pemuas bagi nafsu seksualitas yang memuncak di ubun-ubun seorang lelaki. Tubuh kami bukan bahan lelucon yang kau perbincangkan dengan segala perbandingan siapa yang paling unggul. 

Bagaimana bisa jika seorang perempuan harus tetap terlihat baik-baik saja, padahal di dalam batinnya ia menangis meraung meminta keadilan. Namun naas, pasrah lebih dulu hinggap pada keyakinan. Sebab hukum yang lagi-lagi tidak berpihak pada korban. Kami ingin melangkah dan berjalan jauh tanpa harus takut akan pelecehan yang kerap terdengar dari setiap cerita dan cuitan yang terdengar dari bagai kanal. 

Salam hormat untuk perempuan yang masih menyalakan api semangat dalam melawan ketidakberdayaan. Melawan ketidakpastian hukum yang masih memenjarakan korban di atas traumatik yang mencekik. Panjang umur untuk segala perjuangan yang sedang diupayakan. Sehat selalu, ya kawan-kawan 💗


Comments

Popular posts from this blog

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

2020 Tahun Penuh Pelajaran Baru

Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.  Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggor...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...