Skip to main content

MENJUNJUNG DEMOKRASI DENGAN TOLERANSI

Usia bangsa sudah mulai senja, ribaan histori dari masa ke masa. Meninggikan demokrasi yang tak lagi serasi. Indonesia kini menginjak usia 76 tahun. Negara yang katanya kaya akan keberagaman. Entah itu agama, bahasa, atau adat sekalipun.

Namun, apa yang sudah kita dapatkan dari usia yang semakin renta ini? Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Apa kita sudah benar-benar bersatu padu dalam menjalin kesejateraan bangsa? Atau mungkin kita hanya terbebaskan dari jajahan asing yang dulu porakporandakan tanah kita saja. Sisanya, kita lihat pada Indonesia bagian pelosok.

Mengutip pembahasan dari salah satu jurnal yang berjudul “Toleransi: Nilai dalam Pelaksanaan Demokrasi” pengertian luas dari demokrasi itu sendiri adalah “kebaikan dalam kebebasan. Di mana sebuah toleransi menjadi hal penting dari pelaksanaannya demokrasi tersebut. Jadi, toleransi bisa dimaksudkan sebagai kemampuan dan kemauan orang itu sendiri dan masyarakat umum untuk berhati-hati terhadap hak-hak golongan kecil/minoritas, di mana mereka hidup dalam peraturan yang dirumuskan oleh mayoritas yang memang mengerti dasar demokrasi itu sendiri” (Margaret Sutton, 2006)

Pendidikan, bukankah tonggak kemajuan bangsa ada pada titik pendidikannya? Bukankah pendidikan adalah sebuah syarat seseorang bisa dianggap sebagai manusia? Sebab kini, kita terpenjara oleh stigma yang menganggap bahwa hanya orang-orang berpendidikan saja yang pantas untuk berpartisipasi pada masa depan bangsa. Lalu kenapa masih ada anak-anak yang harus berjuang melintasi arus sungai yang deras hanya untuk menimba sumur ilmu dibatas desa Indragiri Hulu, Riau. Lalu bagaimana dengan guru-guru yang meronta dicekik honorer yang tidak sepadan?

Ekonomi, sebuah kekuatan bangsa dalam meraih kehidupan dari masa ke masa. Impor ekspor sudah tidak terjalin dengan semestinya. Tidak peduli illegal atau tidak. Sebab rupiah sudah membutakan rotasi regulasi. Rupiah jatuh pada saku-saku yang rakus, sedang perut-perut lapar meronta pun menggigil di bawah jembatan, di pinggir rel atau di sudut kota.

Politik, selalu gaduh tanpa peduli musim pilkada atau bukan. Sebab kebencian sudah saling terlempar dengan arogan. Banyak orang mengais rezeki di bawah papan baliho penuh janji. Menatap dari satu senyuman dan kepakan dada yang berbeda. Berharap, demokrasi itu ada dan mampu menyelamatkan kehidupan mereka yang lagi-lagi tersapu debu di bawah terik yang menyengat.

Puluhan tahun kita berdiri dengan kaki yang menopang banyak keragaman ini, apakah kita sudah benar-benar bisa menjunjung demokrasi dengan baik? Apakah kita sudah benar-benar mampu meraih tahta toleransi dengan apik?. Tentu, masih banyak hal yang harus segera kita benahi. Entah dari regulasi negeri atau dari diri kita sendiri. Kita semua perlu mengaca diri, sudahkah kita menjunjung kehidupan yang bertoleransi dalam aktivitas sehari-hari?

Indonesia, sejuta keberagaman yang patut untuk kita banggakan. Perbedaan tidak harus dijadikan alasan untuk perpecahan. Semangat toleransi harus dijunjung setinggi-tingginya. Begitu juga dengan perbedaan pendapat yang tidak melulu diagung-agungkan seakan kita adalah manusia paling benar. Teruslah belajar menghargai dari hal-hal kecil yang kita temui. Jadilah manusia yang rendah hati untuk saling bergandengan tangan tanpa memandang siapa di sebelah kita, siapa di depan kita, siapa di belakang kita. Yakinlah, bahwa kita bisa untuk menjadi Indonesia yang bisa berada di garda terdepan dari menghargai perbedaan.

Titik nadir pada bangsa, adalah mereka yang melupakan perbedaan.
Pilihan memang harus kita miliki.
Namun, perihal perbedaan haruskah kita saling mencaci maki?. Tidak elok rasanya, jika kita saling membenci hanya karena memiliki perbedaan pendapat dan pilihan politik belaka. Mari untuk saling berpegang teguh pada persatuan yang kukuh, menjalin toleransi setinggi mungkin untuk menjunjung demokrasi yang tangguh.


Sub Tema: Selamatkan Demokrasi

Yulistiani Solihah.

Comments

Popular posts from this blog

Bukan untuk berhenti

Kalian pernah gak sih merasa sendiri? bener-bener sendiri? Padahal kita sadar, bahwa teman kita banyak, sangat banyak. Tapi, ada saat ketika semua itu mendadak menjadi nol. Fase ketika bangun tidur dengan banyaknya harapan, lalu terlelap tidur dengan banyaknya kesedihan. Usia yang sudah bukan lagi belasan, bukan lagi hanya untuk main-main, semua terasa jauh lebih berat pun menyesakan. Seperti ingin hilang lalu menguap begitu saja hahaha… menertawakan diri sendiri dari segala pilu yang sedang dihadapi. Kamu yang sedang pontang-panting mencari pekerjaan, aku paham bagaimana sulitnya menjadi sabar. Ketika hidup haruslah tetaplah berjalan dengan segala rupiah yang harus tetap ada. Kamu yang sedang patah hati, aku paham bagaimana rasanya tersakiti berulang kali. Kehilangan rasa percaya seketika, lantas mengulas luka yang amat nyata. Kamu yang sedang rapuh sebab ditinggalkan ayah atau ibu, tabahlah. Aku paham bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang amat berarti untuk separuh...

Merayakan Kekalahan

Di dunia yang luas ini, entah kenapa aku harus mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Nampak bodoh emang, tapi aku bisa apa? Menjatuhkan hati kepadamu bukan sebuah pilihan, sebab semuanya terjadi di luar kendaliku.  Aku mencintai segala rumit yang ada dalam kepalamu. Mencintai sesuatu yang tidak orang lain lihat dengan semestinya.  Sayangnya, aku tidak setabah itu dalam memahami kenyataan. Aku tidak sekuat itu untuk melihat nanar mata yang masih lekat menyimpan masa lalu. Kamu sudah melalui banyak hal, bertumbuh, hancur, lalu terbentuk lagi. Proses yang kamu lalui bersama seseorang yang masih kamu ingat dengan sangat. Perjalanan waktu 7 tahun bukan hal yang mudah memang, dan aku yang baru saja datang ini seperti orang bodoh yang tidak mengerti bagaimana kamu dan isi kehidupanmu. Seharunya, waktu kamu bilang "cintaku habis di masa lalu" aku mundur dan sadar bahwa akan ada banyak hal pahit jika aku terus melangkah maju. Seharusnya, aku tidak membuka pintu i...

Jadi, masih mau bertahan, kan?

Halo, apa kabar? Gimana hari ini? Seneng? Cape? Gak apa-apa, semua hal buruk yang kamu lewatin hari ini gak akan selamanya, kok. Cape? Istirahat, ya. Seandainya sekarang kamu lagi ngerasain sedih, marah, kecewa atau apapun itu, semuanya wajar. Kamu boleh nangis dan bersedih, tapi janji ya gak lama-lama?  Perlu kamu ingat, hidup tidak melulu tentang pencapaian, mendapatkan sesuatu yang kau inginkan tidak akan selalu bergaris pada harapan. Melainkan tentang bagaimana kamu bisa menerima, melepaskan dan mengikhlaskan. Meski hidup terbata-bata, semuanya akan terus berjalan, sayang. Kamu enggak harus berlari untuk mencapai garis itu. Pelan juga engga apa-apa, kok. Semua akan sampai pada waktu yang tepat.  Tanpa kamu sadari, dirimu sudah mencapai titik hebat di luar dugaanmu. Kamu bisa bertahan di titik ini, dan tidak mengambil langkah untuk menyerah. Selama ini, kamu hanya takut akan rasa kecewa karena garis-garis mimpi yang sudah kau susun bisa gagal seketika. Padahal, semua ketaku...