Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa, katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan.
Ironisnya, orang dewasa seringkali
dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk
merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan.
“Mengapa harus menangis
sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu
“Aku pernah membagi duka, namun
dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang
kumiliki”.
Aku di umur 7 tahun, tak pernah
berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya
untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang
dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang
pada umumnya.
Pada deretan angka yang semakin
bertambah, ada banyak luka kemarin sore yang belum sempat mengering dengan
utuh. Untuk kali ini saja, aku ingin berdansa dengan tubuh penuh luka itu. Bersulang
minuman keras bersama sepasang mata sembab dan menghisap tembakau di antara
sepiring gagal penuh amarah.
Pada perjalanan manusia yang
semakin dewasa, kita disekap oleh bentuk kerapuhan yang pelan-pelan harus
kita lekatkan dengan keadaan. Bentuk-bentuk rasa kecewa yang pelan-pelan kita
rangkul untuk kembali Menyusun hal-hal baru.
Mari kita bertumbuh.
Setelah banyaknya kegiatan
menyusuri luka dan duka hingga seperempat abad ini, mari kita bertumbuh. Menyusun
apa-apa yang sempat terjatuh dan berantakan. Kita bertumbuh, menuliskan kembali
hal-hal yang ingin kau capai hingga kau menemukan “Aku bisa sampai di titik
ini, karena aku mampu melewati masa-masa itu”
Comments
Post a Comment