Serintik cerita yang luruh membentuk menjadi sebuah dialog, rentak-hentak menghujam ingatan tentang kita yang tak lagi menjadi satu. Ada banyak tangis di ujung kamar tempat aku mengangkat teleponmu kala itu. Hujan sore tadi, menabur rindu kepada seseorang yang kini sudah asing di telepon genggam.
Di luar rumah ada gemuruh petir carut marut, sedang aku sudah sembab dikurung selimut. Aku mengenangmu sebagai petrikor paling melekat. Ketika basah tanah di pagi hari adalah sisa hujan semalaman tanpa ampun.
Aku mengingatmu seperti bias cahaya senjakala yang jatuh di antara garis jendela, tempat aku membalas pesan singkat melalui telepon genggam yang kini sudah sepi dimakan "Selamat tinggal".
Aku merindukanmu seperti lagu-lagu lama yang tiba-tiba aku dengarkan melalui kepala yang pernah bersandar pada pundak milikmu itu. Aku merasa sepi dengan mata tertutup dan dada yang berdegup.
Namamu, berputar dengan rapi dalam jemala. Beberapa pernah kuhentikan, sisanya masih riuh memenuhi ruang ingatan tanpa pernah berjeda. Tentu saja, ia berputar tanpa pernah menemui final dan selesai.
Bisakah kita bertemu lagi? untuk sekadar menjawab rindu yang selalu gagal aku redam meski dipaksa. Aku kehilangamu, sebagai rumah, tempat aku pulang dan berkisah.
Untuk kali ini saja, izinkan aku terisak dengan penuh melalui puisiku malam ini. Sebab, seberapa lama apapun aku menunggu, tidak akan membawamu untuk melaju kembali ke arahku.
Comments
Post a Comment