Skip to main content

Hilang Tempat

Serintik cerita yang luruh membentuk menjadi sebuah dialog, rentak-hentak menghujam ingatan tentang kita yang tak lagi menjadi satu. Ada banyak tangis di ujung kamar tempat aku mengangkat teleponmu kala itu. Hujan sore tadi, menabur rindu kepada seseorang yang kini sudah asing di telepon genggam. 

Di luar rumah ada gemuruh petir carut marut, sedang aku sudah sembab dikurung selimut. Aku mengenangmu sebagai petrikor paling melekat. Ketika basah tanah di pagi hari adalah sisa hujan semalaman tanpa ampun.

Aku mengingatmu seperti bias cahaya senjakala yang jatuh di antara garis jendela, tempat aku membalas pesan singkat melalui telepon genggam yang kini sudah sepi dimakan "Selamat tinggal".

Aku merindukanmu seperti lagu-lagu lama yang tiba-tiba aku dengarkan melalui kepala yang pernah bersandar pada pundak milikmu itu. Aku merasa sepi dengan mata tertutup dan dada yang berdegup. 

Namamu, berputar dengan rapi dalam jemala. Beberapa pernah kuhentikan, sisanya masih riuh memenuhi ruang ingatan tanpa pernah berjeda. Tentu saja, ia berputar tanpa pernah menemui final dan selesai.

Bisakah kita bertemu lagi? untuk sekadar menjawab rindu yang selalu gagal aku redam meski dipaksa. Aku kehilangamu, sebagai rumah, tempat aku pulang dan berkisah. 

Untuk kali ini saja, izinkan aku terisak dengan penuh melalui puisiku malam ini. Sebab, seberapa lama apapun aku menunggu, tidak akan membawamu untuk melaju kembali ke arahku.




Comments

Popular posts from this blog

Bukan untuk berhenti

Kalian pernah gak sih merasa sendiri? bener-bener sendiri? Padahal kita sadar, bahwa teman kita banyak, sangat banyak. Tapi, ada saat ketika semua itu mendadak menjadi nol. Fase ketika bangun tidur dengan banyaknya harapan, lalu terlelap tidur dengan banyaknya kesedihan. Usia yang sudah bukan lagi belasan, bukan lagi hanya untuk main-main, semua terasa jauh lebih berat pun menyesakan. Seperti ingin hilang lalu menguap begitu saja hahaha… menertawakan diri sendiri dari segala pilu yang sedang dihadapi. Kamu yang sedang pontang-panting mencari pekerjaan, aku paham bagaimana sulitnya menjadi sabar. Ketika hidup haruslah tetaplah berjalan dengan segala rupiah yang harus tetap ada. Kamu yang sedang patah hati, aku paham bagaimana rasanya tersakiti berulang kali. Kehilangan rasa percaya seketika, lantas mengulas luka yang amat nyata. Kamu yang sedang rapuh sebab ditinggalkan ayah atau ibu, tabahlah. Aku paham bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang amat berarti untuk separuh...

Merayakan Kekalahan

Di dunia yang luas ini, entah kenapa aku harus mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Nampak bodoh emang, tapi aku bisa apa? Menjatuhkan hati kepadamu bukan sebuah pilihan, sebab semuanya terjadi di luar kendaliku.  Aku mencintai segala rumit yang ada dalam kepalamu. Mencintai sesuatu yang tidak orang lain lihat dengan semestinya.  Sayangnya, aku tidak setabah itu dalam memahami kenyataan. Aku tidak sekuat itu untuk melihat nanar mata yang masih lekat menyimpan masa lalu. Kamu sudah melalui banyak hal, bertumbuh, hancur, lalu terbentuk lagi. Proses yang kamu lalui bersama seseorang yang masih kamu ingat dengan sangat. Perjalanan waktu 7 tahun bukan hal yang mudah memang, dan aku yang baru saja datang ini seperti orang bodoh yang tidak mengerti bagaimana kamu dan isi kehidupanmu. Seharunya, waktu kamu bilang "cintaku habis di masa lalu" aku mundur dan sadar bahwa akan ada banyak hal pahit jika aku terus melangkah maju. Seharusnya, aku tidak membuka pintu i...

Jadi, masih mau bertahan, kan?

Halo, apa kabar? Gimana hari ini? Seneng? Cape? Gak apa-apa, semua hal buruk yang kamu lewatin hari ini gak akan selamanya, kok. Cape? Istirahat, ya. Seandainya sekarang kamu lagi ngerasain sedih, marah, kecewa atau apapun itu, semuanya wajar. Kamu boleh nangis dan bersedih, tapi janji ya gak lama-lama?  Perlu kamu ingat, hidup tidak melulu tentang pencapaian, mendapatkan sesuatu yang kau inginkan tidak akan selalu bergaris pada harapan. Melainkan tentang bagaimana kamu bisa menerima, melepaskan dan mengikhlaskan. Meski hidup terbata-bata, semuanya akan terus berjalan, sayang. Kamu enggak harus berlari untuk mencapai garis itu. Pelan juga engga apa-apa, kok. Semua akan sampai pada waktu yang tepat.  Tanpa kamu sadari, dirimu sudah mencapai titik hebat di luar dugaanmu. Kamu bisa bertahan di titik ini, dan tidak mengambil langkah untuk menyerah. Selama ini, kamu hanya takut akan rasa kecewa karena garis-garis mimpi yang sudah kau susun bisa gagal seketika. Padahal, semua ketaku...