"Kapan wisuda?"
"kapan nikah?"
"Kapan punya anak?"
"Kapan nambah anak?"
Pertanyaan yang membuat sebagian orang kesal, marah, sedih dan tertekan. Pertanyaan sederhana yang mengakibatkan overthinking. Pertanyaan yang bisa menjadi pembunuhan karakter di depan banyak orang. Usia yang matang atau sudah menginjak 20++ mungkin akan terlihat ringkih oleh pertanyaan ini.
Mereka lupa, bahwa setiap orang punya masa yang berbeda. Usia 22 tidak harus sudah wisuda, usia 24 tidak harus sudah menikah, usia 30 tidak harus punya anak. Semua ada pada porsi dan tempat yang berbeda. Jangan jadikan standarisasi kehidupan menjadi sama.
Setiap orang memiliki keinginan dan pencapaiannya masing-masing. Entah dari sisi apa, kita tidak harus selalu menyalahkan itu. Menikah atau belumnya seseorang adalah haknya, rezekinya, dan sudah menemukan waktu yang tepat. Bukan menikah cepat, tapi menikah di waktu yang tepat. Kapan tepatnya? Tidak harus pada usia yang sudah menjadi standarisasi masyarakat. Kita berhak menentukan pendidikan, karir dan kehidupan kita sendiri.
Kita tidak berhak menggunjingkan orang hanya karena berbeda prinsip dan perspektif. Biarkan kita hidup dengan segala perbedaan pemikiran, biarkan kita hidup dengan segala upaya yang sudah pada porsinya masing-masing.
Comments
Post a Comment