Pagi ini, kita tertinggal lagi dari pembebasan diri. Ia seperti jarum jam yang mati tanpa daya, ia berputar tanpa arah. Seperti anak yang berdusta pada titah seorang ibu. Berjalan keluar rumah dan berbaring di pelataran jalan dan berharap mati kelaparan. Dalam kepalanya bergeriliya, ia hampir lupa. Bahwa dunia tidak sesempit kamar rumahnya.
Malam ini, ia mulai bangun dari kepasrahannya. Melihat seisi
kamar yang masih utuh, belum terjamah oleh ketenangan. Ia menghadap tembok,
berbicara dengan sukarela. Sebab ia tau, pada tembok inilah semua memori
terekam dengan jeli. Entah tangisan ataupun amarah, semua disaksikan tembok
kamar yang berdiri tanpa kaki.
Entah sudah berapa lembar kalender yang ia lewatkan, sebab
ia sudah tak lagi peduli pada waktu yang hanya bergeser tanpa mau menunggunya
kembali pulih. Pada rumahnya, ia lupa arah menuju pintu keluar. Ia lupa
bagaimana warna cahaya matahari yang harusnya masuk melalui celah antara
jendela dan kain gorden.
Matanya basah lagi, ia tidak bisa tidur berhari-hari. Kini,
pada tubuhnya ia melahirkan banyak duka yang mengendap diam-diam dalam sel destruksi.
Banyak luka yang kritis hingga beberapa nampak cacat dan hampir mati.
Bisakah kupeluk tubuh ini? Sebab banyak duka yang ia dekap
dalam-dalam. Inginku antarkan ia dalam ketenangan yang hampir lupa untuk
pulang. Dunia ini luas, kau perlu bergegas menyusun kepingan yang tersisa
dengan apik. Kau perlu mengingat lagi bagaimana cahaya matahari yang bisa
menjadi penghangat dari segala kegigilan yang kau rasakan akhir-akhir ini. Kau
perlu kembali duduk di pelataran rumah dan menyapa beberapa orang yang sebenarnya
merindukanmu. Tenang itu perlu kau jemput, ia menunggu untuk kau raih tanpa
harus tertatih dengan pasrah.
Comments
Post a Comment