Skip to main content

Menjemput Tenang

Pagi ini, kita tertinggal lagi dari pembebasan diri. Ia seperti jarum jam yang mati tanpa daya, ia berputar tanpa arah. Seperti anak yang berdusta pada titah seorang ibu. Berjalan keluar rumah dan berbaring di pelataran jalan dan berharap mati kelaparan. Dalam kepalanya bergeriliya, ia hampir lupa. Bahwa dunia tidak sesempit kamar rumahnya.

Malam ini, ia mulai bangun dari kepasrahannya. Melihat seisi kamar yang masih utuh, belum terjamah oleh ketenangan. Ia menghadap tembok, berbicara dengan sukarela. Sebab ia tau, pada tembok inilah semua memori terekam dengan jeli. Entah tangisan ataupun amarah, semua disaksikan tembok kamar yang berdiri tanpa kaki.

Entah sudah berapa lembar kalender yang ia lewatkan, sebab ia sudah tak lagi peduli pada waktu yang hanya bergeser tanpa mau menunggunya kembali pulih. Pada rumahnya, ia lupa arah menuju pintu keluar. Ia lupa bagaimana warna cahaya matahari yang harusnya masuk melalui celah antara jendela dan kain gorden.

Matanya basah lagi, ia tidak bisa tidur berhari-hari. Kini, pada tubuhnya ia melahirkan banyak duka yang mengendap diam-diam dalam sel destruksi. Banyak luka yang kritis hingga beberapa nampak cacat dan hampir mati.

Bisakah kupeluk tubuh ini? Sebab banyak duka yang ia dekap dalam-dalam. Inginku antarkan ia dalam ketenangan yang hampir lupa untuk pulang. Dunia ini luas, kau perlu bergegas menyusun kepingan yang tersisa dengan apik. Kau perlu mengingat lagi bagaimana cahaya matahari yang bisa menjadi penghangat dari segala kegigilan yang kau rasakan akhir-akhir ini. Kau perlu kembali duduk di pelataran rumah dan menyapa beberapa orang yang sebenarnya merindukanmu. Tenang itu perlu kau jemput, ia menunggu untuk kau raih tanpa harus tertatih dengan pasrah.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

2020 Tahun Penuh Pelajaran Baru

Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.  Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggor...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...