Apa yang tersisa dari tangisanmu malam tadi? Mata sembab atau asa yang luruh tanpa jeda? Ia abu-abu, entah pura-pura atau bahagia sungguhan. Bisakah kita bicara sebentar? Kepada tembok kamar yang diam-diam menjadi tempat paling rahasia. Ia menyimpan banyak memori, tentang bagaimana ia menyaksikan sosok yang menangis di balik selimut sesenggukan. Di atas bantal yang ia jadikan topangan kepala yang penuh dengan beban. Tidak ada cahaya apapun, meski sesekali ponsel itu berdering dengan senyap.
Bisakah kupeluk dahulu tubuh itu? Aku ingin memastikan, bahwa hidup bukan tentang gagal lagi dan berhenti. aku ingin menepuk pundak yang semakin menyusut itu, ada harapan yang perlu diraih lagi. Sebab hidup masihlah panjang. Kita perlu bergerak dan bertumbuh. Bukan diam dan mati memungut pasrah. Tetaplah menjadi dirimu dengan versi terbaru yang jauh lebih baik lagi. Selamat mengarungi usia, ia tidak abadi. Namun ia layak kau beri kesempatan lagi.
Comments
Post a Comment