Dalam kepalaku,
ada banyak narasi di kepala
tentang pertukaran perasaan yang lagi-lagi gagal untuk tuntas.
alih-alih kuperas air mataku lamat-lamat
kulempar dengan pasrah pada langit yang sendu sedari pagi
Mungkin, kau akan bertanya
sudah kenyangkah aku dengan kegagalan?
Seolah-olah harapan yang kugenggam memiliki sembilan nyawa
ia kuat, lebih kuat dari hari kemarin
Ia tertawa dengan girang, memungut kilat yang berceceran diambang langit menuju sore
Aku, masih tersungkur dengan perasan air mata yang tak jua habis pun mati
Ia masih kuat, menggendong harapan yang tak habis dibunuh oleh realitas
Comments
Post a Comment