Sesekali, kau perlu sambangi kursi itu
Ia lengang dimakan waktu
Sedang kopi dan teh itu,
masih utuh meski asapnya hilang ditelan abai
Televisi adalah teman langgeng tempat ia berdamai
meski berdebu, ia tetap nyala dalam tenang
Bentuk guratannya semakin nampak tersurat
raut senyumnya masih menyala dengan hangat
Pun tangannya,
Ia masih mampu menuntunmu dengan sentosa
Meski langkahnya renta tertelan usia
Jemalanya penuh sudah
Rimba dipenuhi memori hari tua yang lelah
Ia masih di sana, duduk dengan remote yang cacat
Menunggu ketukan yang dibuka tanpa syarat
Pulanglah, dengan atau tanpa euforia
Mereka hanya perlu anaknya ada
bukan rupiah apalagi takhta
Pulanglah, beri jeda dari jarak yang sudah rumpang
Comments
Post a Comment