Skip to main content

Terhenti Pada Titik

Aku kira setelah bertahun-tahun aku memilih sendiri dan akhirnya aku memilih untuk kembali menerima ketukan seseorang akan menjadikan aku kembali pulih pelan-pelan. Aku kira, aku akan mendapatkan rumah tempat aku pulang dari lelahnya kehidupan.


Ternyata tidak, seseorang yang aku kira akan menjadi rumah nyaman tempat aku bercerita malah menjadikanku sepi yang sama saja. Aku tetap merasa harus berjuang sendirian, aku tetap harus berjalan sendirian, dan aku harus tetap menyeka lelahku sendirian. 


Jika sibuk adalah alasanmu, lalu kapan kita bisa bersua? Kabar tentang kau pulang saja sudah tidak lagi aku dengar meski ini adalah hal sederhana yang bernilai besar bagiku. Entah komunikasi ataupun pertemuan, semuanya berangsur hilang dari permukaan. 


Dan aku tetap di sini, menyimpan banyak cerita yang lagi-lagi harus aku telan sendirian. Sebab nyatanya, kamar adalah bentuk dari tubuh yang selalu setia mendengarkan tawa dan tangis setiap malamnya.


Terima kasih, sebab pertemuan di siang itu kita bisa melangkah hingga sejauh ini. Terima kasih sudah mau mencintaiku meski akhirnya kita harus terhenti disini. Aku tidak menyesal pernah mengenalmu, pernah mencintaimu dan menemanimu di masa-masa sulit. Aku selalu berharap, masing-masing dari kita bisa bahagia dengan jalan yang terbaik.

Comments

Popular posts from this blog

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

2020 Tahun Penuh Pelajaran Baru

Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.  Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggor...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...