Aku kira setelah bertahun-tahun aku memilih sendiri dan akhirnya aku memilih untuk kembali menerima ketukan seseorang akan menjadikan aku kembali pulih pelan-pelan. Aku kira, aku akan mendapatkan rumah tempat aku pulang dari lelahnya kehidupan.
Ternyata tidak, seseorang yang aku kira akan menjadi rumah nyaman tempat aku bercerita malah menjadikanku sepi yang sama saja. Aku tetap merasa harus berjuang sendirian, aku tetap harus berjalan sendirian, dan aku harus tetap menyeka lelahku sendirian.
Jika sibuk adalah alasanmu, lalu kapan kita bisa bersua? Kabar tentang kau pulang saja sudah tidak lagi aku dengar meski ini adalah hal sederhana yang bernilai besar bagiku. Entah komunikasi ataupun pertemuan, semuanya berangsur hilang dari permukaan.
Dan aku tetap di sini, menyimpan banyak cerita yang lagi-lagi harus aku telan sendirian. Sebab nyatanya, kamar adalah bentuk dari tubuh yang selalu setia mendengarkan tawa dan tangis setiap malamnya.
Terima kasih, sebab pertemuan di siang itu kita bisa melangkah hingga sejauh ini. Terima kasih sudah mau mencintaiku meski akhirnya kita harus terhenti disini. Aku tidak menyesal pernah mengenalmu, pernah mencintaimu dan menemanimu di masa-masa sulit. Aku selalu berharap, masing-masing dari kita bisa bahagia dengan jalan yang terbaik.
Comments
Post a Comment