Skip to main content

Bandung dan ceritanya

Mari kita berbincang.
Aku akan ceritakan Bandung kepadamu.
Perihal hujan yang sederhana juga deras yang memikat. Terjebak berdua pun rasanya aku bahagia, sebab rintik yang jatuh akan menjadikan sejarah bagi kita.
Masih dalam basah hujan, aku akan tetap berharap, kita akan terus seperti ini ; berdua. Entah hujan atau tidak. 

Tidak lupa, aku akan hidangkan secangkir teh juga sepiring colenak tanpa gula, sebab dengan senyummu saja aku yakin diabetesku akan kambuh lagi. 

Perlu kamu tahu, Bandung layaknya ibu.
Bukan hanya tempat aku lahir juga berteduh, apalagi destinasi wisata sana sini.
Bagiku Bandung adalah ibu yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. 

Ingatkah sejarah Bandung Lautan Api? 
Para pejuang lebih memilih membumi hanguskan kota ketimbang harus menjadikan kotanya sebagai markas sekutu. Begitu cintanya mereka pada kota yang konon diciptakan oleh Tuhan kala ia sedang tersenyum. 
Mari beralih dari sejarah. 

Bandung dengan segala ruas jalan yang memikat. Cipaganti, Wastukencana, Buahbatu, Dago, dan masih banyak lagi ruas jalan yang tentu memiliki makna dan ceritanya masing-masing.

Obrolan kita belum usai, namun kau harus segera lekas pulang, sebelum kereta di Stasiun Kiaracondong melaju pergi menuju kota sebrang. 
Mari kita jadwalkan pertemuan selanjutnya sayang.
Akan lebih asyik jika aku mengajakmu langsung menyusuri tiap sudut kota ini sepanjang hari tanpa harus tercekik waktu.

Jika nanti kita bertemu lagi, maka aku ingin membunuh waktu, agar aku bisa berlama-lama bersamamu. 
Tak peduli dengan minuman panas yang mulai dingin, karena bagiku dengan bersamamu semua akan terasa hangat. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

2020 Tahun Penuh Pelajaran Baru

Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.  Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggor...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...