Mari kita berbincang.
Aku akan ceritakan Bandung kepadamu.
Perihal hujan yang sederhana juga deras yang memikat. Terjebak berdua pun rasanya aku bahagia, sebab rintik yang jatuh akan menjadikan sejarah bagi kita.
Masih dalam basah hujan, aku akan tetap berharap, kita akan terus seperti ini ; berdua. Entah hujan atau tidak.
Tidak lupa, aku akan hidangkan secangkir teh juga sepiring colenak tanpa gula, sebab dengan senyummu saja aku yakin diabetesku akan kambuh lagi.
Perlu kamu tahu, Bandung layaknya ibu.
Bukan hanya tempat aku lahir juga berteduh, apalagi destinasi wisata sana sini.
Bagiku Bandung adalah ibu yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.
Ingatkah sejarah Bandung Lautan Api?
Para pejuang lebih memilih membumi hanguskan kota ketimbang harus menjadikan kotanya sebagai markas sekutu. Begitu cintanya mereka pada kota yang konon diciptakan oleh Tuhan kala ia sedang tersenyum.
Mari beralih dari sejarah.
Bandung dengan segala ruas jalan yang memikat. Cipaganti, Wastukencana, Buahbatu, Dago, dan masih banyak lagi ruas jalan yang tentu memiliki makna dan ceritanya masing-masing.
Obrolan kita belum usai, namun kau harus segera lekas pulang, sebelum kereta di Stasiun Kiaracondong melaju pergi menuju kota sebrang.
Mari kita jadwalkan pertemuan selanjutnya sayang.
Akan lebih asyik jika aku mengajakmu langsung menyusuri tiap sudut kota ini sepanjang hari tanpa harus tercekik waktu.
Jika nanti kita bertemu lagi, maka aku ingin membunuh waktu, agar aku bisa berlama-lama bersamamu.
Tak peduli dengan minuman panas yang mulai dingin, karena bagiku dengan bersamamu semua akan terasa hangat.
Keju mozarella khas cijerah nya k
ReplyDelete