Skip to main content

Pulanglah

Degup jantungku masih sulit aku biasakan. Dia berdetak jauh lebih cepat. Dadaku naik turun, nafasku terguncang. Sedang mataku meluruhkan air mata tanpa paksaan. Bukan karena putus cinta. Bukan pula karena terselingkuhi. Ini karena rindu juga kesal pada seseorang yang jauh di kota sebrang.
Ini adalah bulan ke-4 setelah ia terlelap tanpa kabar. Sabarku sudah sulit aku redam. Mungkin ia lelah karena memikul rindu yang tak jua padam. Entah berapa pesan yang aku kirim. Entah seberapa banyak pula panggilan yang aku lakukan.
Janjimu, pada saat itu "Aku akan menemuimu setiap malam sabtu pada akhir bulan" lalu kamu menggenggam tanganku kuat-kuat. Tersenyum dan menatapku dalam-dalam, lalu memeluk erat penuh harapan.
Aku ingat benar bagaimana lengkungan hangat senyumanmu kala itu. Namun, semua perlahan buram pun suram. Terasa pahit jika apa yg selama ini kita lalui harus berujung pada ketidakpastian yang menyakitkan.
Apa kamu tau rasanya dikecewakan? Bagaimana tidak, kamu menghilang tanpa ada sisa jejak yang kau tinggalkan. Kamu pergi setelah 5 tahun menjadi bagian dalam do'aku, juga bagian dari alasan aku tetap berjuang pada kerasnya hidup. 

Apa Kamu gila? Waktu 5 tahun bukanlah main-main sayang. Lama sudah aku menunggu kabar yang sungguh memuakan. Entah apa yang sedang kamu lakukan pada jarak yang terbentang banyaknya angka kilo meter ini. Perlu kamu tau, selama jarak yang kita lalui ini, aku sudah menolak banyak orang yang jauh lebih menarik darimu. Namun, satu hal yang membuat aku masih bertahan dengan jarak; sebab kamu dimataku sudah begitu sempurna. Dan kurangmu adalah bagian dari lengkapnya kita yang tak jua kalah oleh ketidak sempurnaan. Aku tidak melihat kamu dari cerita orang-orang.

Sayang, jika kamu masih menyimpan aku di hatimu, pulanglah.. Banyak cerita yang belum kita bagi selepas kau pergi.

13 september 2016

Comments

  1. Pulang, disana terlalu menyakitkan untuk bertahan lebih lama.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

2020 Tahun Penuh Pelajaran Baru

Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.  Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggor...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...