Kita saling menunggu,
Saling menyimpan sesuatu
Namun enggan memberitahu.
Hingga pada akhirnya kita saling diam dalam sapaan.
Rasanya, menunggu saja sudah cukup melelahkan.
Apalagi jika mengejar dengan arah yang entah akan berujung impas atau ikhlas.
Atau mungkin kehilangan adalah jalan terakhir dari penantian?
Kita yang selama ini nampak dekat
nyatanya, aku tak pernah memiliki tempat.
Sebab, aku tak memiliki kuasa untuk menjadi rumah dari segala pulangmu,
Kuasaku hanya sebatas mendengarkan ceritamu saja,
selebihnya kau bagikan dengan seseorang yang mungkin kau anggap segalanya.
meski aku tahu;
hanya aku yang memiliki perasaan ganjil ini, sendirian.
Entah apa kabar perasaanmu.
Sebab aku takut untuk sekadar menerka prasangka perasaanmu.
Namun percayalah, aku sudah menyiapkan satu porsi tabah yang tak kalah besar dari setiap harapan yang aku dekap dalam-dalam.
Selepas dari jarak yang memisahkan kita, kepala dan hatiku kini tumbuh layaknya hutan rimba yang dipenuhi belantara rindu bayanganmu.
Sore ini hujan nampak lebat. Beruntunglah, aku masih tetap utuh dengan mata yang sedikit sendu.
Sebab seringkali rintik hujan memecah tangis yang luar biasa.
Bilamana nanti malam kembali turun hujan, maka izinkan aku untuk berdoa di hadapan Tuhan dengan menyebut namamu di dalamnya.
Biarkan aku menelanjangi segala ingatan tentang kita yang pernah dekat, pernah bersua berdua, menikmati banyaknya dialog tanpa jemu.
Mari, kita nikmati jalan kita masing-masing.
aku akan berbenah diri dari harapan yang telah usai, dan kamu akan tetap berjalan dengan segala pilihan yang kau tentukan.

Comments
Post a Comment