"Ibu, aku pulang ke Bandung, ya?" Percakapan singkat tentang pulang kepada rumah yang sesungguhnya. Hujan malam ini menuntun kepada duka yang tak berjeda. Jalanan sudah basah, kereta yang membawaku kini sepi dimakan waktu, namun kepalaku riuh membawa dialog antara luka dan kehilangan tadi pagi. Tidak ada yang kukantongi untuk oleh-oleh, sebab tangisan sudah kubawa sebagai bingkisan.
Jauh sebelum hujan luruh dengan deras malam ini, sudah kupersiapkan obat tidur untuku di perjalanan. Sebab aku tahu, perjalanan malam ini akan terasa panjang dan melelahkan.
Kereta yang kutumpangi seakan berjalan terbata-bata. Ia melaju dengan payah, tanpa peduli sudah berapa banyak air mata yang ingin aku tumpahkan pada pelukan yang paling aku butuhkan saat ini.
Belum sampai di pemberhentian pertama, aku sudah lebih dulu terbangun dari tidur yang amat sesak. Kereta, bisakah kau melaju lebih cepat? tangisku sudah kering, namun luka yang kubawa sudah semakin menganga dan amat perih.
"Bu, anakmu patah hati... untuk yang pertama kalinya"
Yang hancur lebur
ReplyDeleteAkan terobati
Yang sia-sia
Akan jadi makna
Suatu saat nanti
Yang pernah jatuh
Kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh
Yang hilang berganti