Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.
Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggorokan tuh kecekik, nahan nangis terus setiap waktunya. Mau minta tolong sama siapa? keadaan pandemi yang bikin semua hal jadi terbatas. Semua aku lakukan sendirian.
Entah harus jujur atau tidak. Keluarga pada saat itu sangat kacau. Setelah konsultasi dan diskusi, akhirnya mereka dipertemukan dengan keadaan bapak masih latihan berjalan pasca operasi, dan mama yang tertidur lemas dengan selang oksigen yang dihidungnya. Mereka menangis, memeluk dan saling menguatkan. Sesak rasanya, melihat orang tua yang sudah mulai renta dimakan waktu.
Ma, anak perempuan yang pada saat itu berusia 23 tahun itu berhasil melewati masa-masa terberat dalam hidupnya,
Comments
Post a Comment