Skip to main content

Ternyata, aku adalah salah satu pilihan

Dulu kamu pernah bilang “Kalo ada yang lebih baik dari aku, sama dia aja gapapa” makanya aku coba untuk membuka hati untuk yang lain. Meskipun hasilnya nihil, aku akan tetap membukanya. 


Hingga pada akhirnya malah kamu yang lebih dulu punya pilihan lain selain aku dan aku pura-pura ga tau. Sekarang kamu bilang “kasih aku kesempatan sekali lagi” “aku pastikan cintanya setara” “ayo berjuang dari nol bareng-bareng”


Tapi maaf, aku udah cape. Capee banget. Energiku rasanya udah terkuras dengan banyak hal yang terjadi selama kita kenal. Rasanya udah cukup aku ngerasain sakitnya sendirian hingga aku bertanya-tanya “apa aku tidak selayak itu untuk dicintai dan dihargai?”


Ma, ternyata mencintai dan tidak dihargai itu rasa sakitnya membekas ya? Hingga aku takut untuk melangkah lagi. Ma, ternyata aku setidak layak itu ya untuk sekedar mendapatkan cinta yang setara? 


Ma, jika saja aku bisa memilih kepada siapa aku bisa jatuh cinta. Aku ingin menaruh cinta ini sepenuhnya hanya kepadamu dan akan ku bumihanguskan sisanya. Agar tidak lagi ada bagian untuk kesia-siaan yang tidak dihargai.


Maka, selamat menaruh pilihanmu untuk seseorang yang lain. Selamat mengarungi perasaan bersama pilihanmu yang lain. Aku akan tetap tutup mata seakan aku tidak tahu apa-apa.


Percayalah, aku sudah sangat hafal bagaimana cara untuk meredam perasaan ini agar lebih rapi dan tidak berisik. Selamat menuai cinta bersama seseorang yang kau temui di belakangku. 

Comments

Popular posts from this blog

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

2020 Tahun Penuh Pelajaran Baru

Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.  Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggor...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...