Skip to main content

Posts

"Kala Puan bercerita pada Tuan perihal Malam yang pilu"

Jika malam ini ada ketukan Maka bukalah kedua matamu Sertakan secangkir kopi Lalu ajaklah ia berbincang Tapi jika ketukannya beribu Sepertinya ia pilu Habis berjuta cangkir pun Ia tak akan mengerti dengan rasa yang mengganggu Perlu kau tau, Tuan ... Diantara kopi juga pilu nan alur yang semu Ia sembab dan hanya sisihkan gelisah Mungkin begini keluhnya Beribu rasa sakit namun tanpa darah Berjuta iri pada Matahari yang kian selalu mengikuti para hamparan awan yang berlari dengan sejuta mimpi Bermilyar detik yang ia sesali akan tiada cahaya saat ia kembali Dan bertrilyun nafas yang mati saat ia terjaga di gelapnya pagi Collaboration ryhme by Ink. Mavia. Art and Me - July 2017

Pulanglah

Degup jantungku masih sulit aku biasakan. Dia berdetak jauh lebih cepat. Dadaku naik turun, nafasku terguncang. Sedang mataku meluruhkan air mata tanpa paksaan. Bukan karena putus cinta. Bukan pula karena terselingkuhi. Ini karena rindu juga kesal pada seseorang yang jauh di kota sebrang. Ini adalah bulan ke-4 setelah ia terlelap tanpa kabar. Sabarku sudah sulit aku redam. Mungkin ia lelah karena memikul rindu yang tak jua padam. Entah berapa pesan yang aku kirim. Entah seberapa banyak pula panggilan yang aku lakukan. Janjimu, pada saat itu "Aku akan menemuimu setiap malam sabtu pada akhir bulan" lalu kamu menggenggam tanganku kuat-kuat. Tersenyum dan menatapku dalam-dalam, lalu memeluk erat penuh harapan. Aku ingat benar bagaimana lengkungan hangat senyumanmu kala itu. Namun, semua perlahan buram pun suram. Terasa pahit jika apa yg selama ini kita lalui harus berujung pada ketidakpastian yang menyakitkan. Apa kamu tau rasanya dikecewakan? Bagaimana tidak, kamu menghilang ta...