Pukul lima seperempat
Bandung begitu sangat padat
Penuh sesak dengan roda empat yang rapat-rapat menunggu lampu hijau.
Jeritan bising dari klakson kanan dan kiri tak juga mengalahkan bising dari suara pikiran yang meraung meminta istirahat.
Sudah lelah tubuh ini bekerja, kini harus juga lelah menunggu pesan berbalas dari kamu.
tidak apa-apa, aku tahu kamu sibuk dengan dunia yang asyik. hampir-hampir aku berpikir, apa kamu sudah mati tertelan cumbu? sebab story pada instagram milikmu terus menceritakan perihal bahagiamu dengan seseorang yang kau sebut adalah teman.
Kita adalah sepasang yang kian berusia panjang, bukan semakin menjalin, melainkan semakin menjauh dari peluk. Entah memang ujian atau kamu yang semakin bosan diterpa banyak godaan.
Sudah aku bilang, tiada jahat paling mengerikan. Ketika seseorang mengetuk pintu dengan manis lantas kau buka dengan ucapan selamat datang dengan mesra. Padahal ada aku yang duduk bersila dengan nyaman ditempat yang kita sebut sebagai rumah tempat berkisah.
Di meja hadapanku terdapat dua kopi kampung yang lama kita racik penuh usaha, hingga akhirnya kita nikmati dengan tawa di pelataran rumah. Kini, kamu beralih menyukai kopi mahal yang dibawakan oleh seseorang yang baru saja kamu kenal.
Bandung begitu sangat padat
Penuh sesak dengan roda empat yang rapat-rapat menunggu lampu hijau.
Jeritan bising dari klakson kanan dan kiri tak juga mengalahkan bising dari suara pikiran yang meraung meminta istirahat.
Sudah lelah tubuh ini bekerja, kini harus juga lelah menunggu pesan berbalas dari kamu.
tidak apa-apa, aku tahu kamu sibuk dengan dunia yang asyik. hampir-hampir aku berpikir, apa kamu sudah mati tertelan cumbu? sebab story pada instagram milikmu terus menceritakan perihal bahagiamu dengan seseorang yang kau sebut adalah teman.
Kita adalah sepasang yang kian berusia panjang, bukan semakin menjalin, melainkan semakin menjauh dari peluk. Entah memang ujian atau kamu yang semakin bosan diterpa banyak godaan.
Sudah aku bilang, tiada jahat paling mengerikan. Ketika seseorang mengetuk pintu dengan manis lantas kau buka dengan ucapan selamat datang dengan mesra. Padahal ada aku yang duduk bersila dengan nyaman ditempat yang kita sebut sebagai rumah tempat berkisah.
Di meja hadapanku terdapat dua kopi kampung yang lama kita racik penuh usaha, hingga akhirnya kita nikmati dengan tawa di pelataran rumah. Kini, kamu beralih menyukai kopi mahal yang dibawakan oleh seseorang yang baru saja kamu kenal.
Comments
Post a Comment