Skip to main content

Ikhlas yang sulit

Malam dipenghujung bulan kali ini aku diterpa duka yang tidak biasa.
Mata yang lagi-lagi sembab dan melulu luruh air mata yang tiada jeda untuk sekadar rehat.
Jika saja ikhlas bisa aku beli, mungkin aku akan membelinya dengan cuma-cuma.

hari-hari kemarin rasanya kita begitu hangat dengan banyaknya obrolan manis di antara jam malam. bertukar banyak obrolan yang lagi-lagi asyik untuk kita bahas hingga habis. memutarkan lagu-lagu sendu mendayu untuk diratapi makna sedihnya. ya, aku bahagia pada hari-hari itu.

siapa sangka, seseorang yang lain tiba-tiba hadir tanpa permisi pada keadaan. bertanya perihal aku yang katanya sama-sama suka dengan kamu yang terlihat hangat.

Masih banyak puisi yang belum sempat aku bagi. Rasanya baru kemarin kita bertukar bacaan, sekarang kita sudah berjauhan. Aku harap kita tetap menjadi seperti dulu, meski harus sedikit tenggang sebab kamu yang ternyata memiliki kekasih diam-diam.

Kali ini aku harus belajar ikhlas perihal kehilangan dari yang dicinta. Merelakan ia pergi untuk menemui apa yang sudah menjadi haknya.

Sesuatu yang sulit telah aku lakukan. Melepas sesuatu yang aku kira adalah yang terbaik. Tidak apa-apa, menghargai perasaan sesama wanita bukankah baik? Aku mengerti bagaimana rasanya harus berpisah sebab ada orang lain yang baru. Bahagialah.


Comments

Popular posts from this blog

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...

Semoga

"kok makin tua makin berat ya rasanya?" hidup emang udah kaya komedi putar, naik turun tanpa jeda. Dari segala pikulan masalah yang kau tanggung, ada banyak tepukan semangat dari orang-orang sekitar. "yuk bisa yuk? tetep kuat dan berjuang. Semangat, ya!" mereka menyemangatiku dan membiarkanku berjuang sendirian tanpa peduli bagaimana kondisiku setelahnya.  Untuk kamu yang sedang berusaha mengupayakan segala duka pilu dan beban yang lanjur kalut, beristirahatlah... Sejenak kau ambil waktu, melihat ketenangan dari belah matamu yang akhir-akhir ini terlihat sendu.  Dengarkan lagu-lagu tenang yang mungkin akan membawamu dalam kedamaian.  Setelah itu, kamu boleh kembali pada realita. Kembali dengan dirimu yang jauh lebih baik dari ini. Ingat, kamu hanya perlu menjadi diri sendiri dengan terus bertumbuh lebih baik lagi. Kita hidup untuk diri kita sendiri, selebihnya untuk mereka yang tetap ada bersama kita bagaimanapun keadaannya. Bukan egois, tapi seringkali kita diperbu...