Skip to main content

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain. 

Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya.

Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya?

Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagian dari tangan Tuhan yang harus kita yakini. Jika akhirnya apa yang kamu usahakan tidak sesuai dengan inginmu, maka kau perlu jeda dari segala upaya. Perlu untuk duduk tanpa harus merasa bersalah dan membenci diri sendiri. Gagal atau kalah itu bukan suatu hal yang menyenangkan memang, tapi jangan sampai menjadikan kita lupa untuk sekadar berterima kasih pada diri sendiri. 

Berjuang dan berusaha itu perlu, begitupun dengan memiliki ambisi. Tapi jangan sampai kamu menjadi lupa untuk menikmati apa yang sudah kamu miliki saat ini, berterima kasih dan bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berusaha lebih baik lagi.

Pada akhirnya, kamu akan sadar dan tahu apa yang sebenarnya ingin kamu capai. Keinginan atau harapan yang tumbuh dari diri kamu sendiri tanpa harus melihat orang lain. Pelan-pelan, kamu rangkai lagi dan jalani dengan langkah yang baru. Selamat bertemu di kehidupan yang lebih baik, dengan mimpi yang baru, tujuan yang baru dan harapan yang baru. Untuk kamu yang sedang membaca ini, semoga hal-hal baik selalu menyertaimu. Sehat selalu dan jangan lupa berterima kasih pada diri sendiri.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

2020 Tahun Penuh Pelajaran Baru

Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.  Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggor...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...