Skip to main content

Posts

Hilang Tempat

Serintik cerita yang luruh membentuk menjadi sebuah dialog, rentak-hentak menghujam ingatan tentang kita yang tak lagi menjadi satu. Ada banyak tangis di ujung kamar tempat aku mengangkat teleponmu kala itu. Hujan sore tadi, menabur rindu kepada seseorang yang kini sudah asing di telepon genggam.  Di luar rumah ada gemuruh petir carut marut, sedang aku sudah sembab dikurung selimut. Aku mengenangmu sebagai petrikor paling melekat. Ketika basah tanah di pagi hari adalah sisa hujan semalaman tanpa ampun. Aku mengingatmu seperti bias cahaya senjakala yang jatuh di antara garis jendela, tempat aku membalas pesan singkat melalui telepon genggam yang kini sudah sepi dimakan "Selamat tinggal". Aku merindukanmu seperti lagu-lagu lama yang tiba-tiba aku dengarkan melalui kepala yang pernah bersandar pada pundak milikmu itu. Aku merasa sepi dengan mata tertutup dan dada yang berdegup.  Namamu, berputar dengan rapi dalam jemala. Beberapa pernah kuhentikan, sisanya masih riuh memenuhi ru...

Memulai Kembali

Sadar atau tidak, kita seringkali diperbudak oleh pencapaian orang lain. Merasa harus lebih kuat lagi dalam bertahan, merasa harus lebih keras lagi dalam berjuang hanya karena kamu ingin seperti orang lain.  Ingat, jalan setiap orang itu berbeda. Jangan memaksakan diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan kepada yang bukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak usah terburu-buru dalam memutuskan pilihan, kau perlu untuk berpikir lebih panjang lagi. Jika kamu memutuskan sesuatu hanya karena melihat orang lain, kamu akan kelelahan dalam mengejarnya. Kamu akan kehilangan diri sendiri ketika sedang bersikeras. Pada akhirnya kamu akan merasa cemas dan tidak tenang. Menyalahkan diri sendiri karena akhirnya gagal lantas merasa kalah begitu saja. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan segala ambisi yang kau punya. Semua akan terlihat berantakan, semua akan berjalan terbata-bata. Jangan merendahkan dirimu sendiri, ya? Perlu diingat, kita ini manusia. Berusaha adalalah tugas kita, sisanya adalah bagi...

Semoga

"kok makin tua makin berat ya rasanya?" hidup emang udah kaya komedi putar, naik turun tanpa jeda. Dari segala pikulan masalah yang kau tanggung, ada banyak tepukan semangat dari orang-orang sekitar. "yuk bisa yuk? tetep kuat dan berjuang. Semangat, ya!" mereka menyemangatiku dan membiarkanku berjuang sendirian tanpa peduli bagaimana kondisiku setelahnya.  Untuk kamu yang sedang berusaha mengupayakan segala duka pilu dan beban yang lanjur kalut, beristirahatlah... Sejenak kau ambil waktu, melihat ketenangan dari belah matamu yang akhir-akhir ini terlihat sendu.  Dengarkan lagu-lagu tenang yang mungkin akan membawamu dalam kedamaian.  Setelah itu, kamu boleh kembali pada realita. Kembali dengan dirimu yang jauh lebih baik dari ini. Ingat, kamu hanya perlu menjadi diri sendiri dengan terus bertumbuh lebih baik lagi. Kita hidup untuk diri kita sendiri, selebihnya untuk mereka yang tetap ada bersama kita bagaimanapun keadaannya. Bukan egois, tapi seringkali kita diperbu...

Standarisasi Kehidupan

 "Kapan wisuda?" "kapan nikah?" "Kapan punya anak?" "Kapan nambah anak?" Pertanyaan yang membuat sebagian orang kesal, marah, sedih dan tertekan. Pertanyaan sederhana yang mengakibatkan overthinking. Pertanyaan yang bisa menjadi pembunuhan karakter di depan banyak orang. Usia yang matang atau sudah menginjak 20++ mungkin akan terlihat ringkih oleh pertanyaan ini.  Mereka lupa, bahwa setiap orang punya masa yang berbeda. Usia 22 tidak harus sudah wisuda, usia 24 tidak harus sudah menikah, usia 30 tidak harus punya anak. Semua ada pada porsi dan tempat yang berbeda. Jangan jadikan standarisasi kehidupan menjadi sama.  Setiap orang memiliki keinginan dan pencapaiannya masing-masing. Entah dari sisi apa, kita tidak harus selalu menyalahkan itu. Menikah atau belumnya seseorang adalah haknya, rezekinya, dan sudah menemukan waktu yang tepat. Bukan menikah cepat, tapi menikah di waktu yang tepat. Kapan tepatnya? Tidak harus pada usia yang sudah menjadi s...

Barangkali.

Barangkali, nanti kita bisa duduk berdua tanpa sungkan Menenggak minuman yang kau pesan dengan senang Berkelakar hingga puas pun hingga habis tanpa ampas Sedari pukul tiga sore, Masing-masing dari kita saling mempersembahkan kisah Menceritakan bagaimana sulitnya aku mencintaimu dalam diam Memupuk perasaan dari tahun ke tahun tanpa tau arah pasti Barangkali, nanti kita bisa menjadi sepasang yang membanggakan Saling rengkuh dalam setiap kalah yang kita temui. Bagaimana bisa hadirmu kian tak pernah habis dalam genggaman? Namun, pada akhirnya… Aku akan terbunuh oleh semua andai yang tersusun rapi dalam tulisan Sebab, apa yang aku harapkan kian tak kunjung datang pun apa yang aku perjuangkan tak akan membuahkan kesadaran dengan segala penantian yang aku punya.

Kepada, Ir.

Ir, kita hanya sekadar dua orang asing yang rajin saling melihat unggahan cerita di sosial media. Kita tidak lebih dari itu. Mungkin, kamu akan sedikit bingung, kenapa aku bisa menyukai seseorang yang bahkan saling menyapapun tidak pernah.  Ir, perasaan ini ada sejak dua atau tiga tahun lalu, tanpa alasan dan entah kenapa. Semua ada sejak aku sadar “eh kalo gak salah aku sama dia followan deh di Instagram”. Sejak itu, pertemuan yang tidak sengaja selalu nampak tanpa diminta dan dicari.  Meski aku tahu, hanya aku yang menyadarinya.  Hingga hari ini perasaan itu tetap ada, bodoh memang.. ketika aku memilih untuk diam, sebab aku takut jika akhirnya perasaan ini akan merubah keadaan menjadi lebih buruk. Aku takut, aku terlalu pengecut untuk ini. Maaf, perasaan ini sulit aku redam meski sudah menahun.  Aku cukup tau diri. Cukup tau bagaimana kapasitas aku yang hanya sekadar orang asing di hidup kamu. Oleh sebab itu, aku tidak akan meminta apapun dari kamu. Tidak akan memi...

(Bukan) Melupakan

  Tidak ada yang berbeda Hidupku masih begini-begini saja Tidur, berkerja dan main game Tidak ada hal yang membuatku harus berlarut dalam kerisauan Karena nyatanya, menerima adalah jalan untuk melepaskan   Kata orang aku sedang galau Sedang dilanda pilu jua duka Nyatanya memang iya – sesunggunya Namun, bukankah ini adalah sebuah proses?   Aku tidak berusaha untuk melupakannya Tida membuang semua barang pemberiannya Tidak juga menghapus foto kebersamaan yang lampau   Bagiku, berusaha melupakan adalah hal yang menyakitkan Teringat sedikit lalu menangis sedalam-dalamnya Bukankah itu sangat mengerikan?   Cukup dengan menerima maka dengan sendirinya aku akan melepaskan Jatuh sehelai demi sehelai ingatan yang sudah menjelema menjadi kenangan Jika suatu hari nanti aku ingat lagi, maka aku tidak akan apa-apa Karena bagiku kamu adalah seseorang yang pernah mengajarkanku Bahwa perbedaan keyakinan adalah jarak paling jauh di an...