Skip to main content

Posts

Satu

Pukul lima seperempat Bandung begitu sangat padat Penuh sesak dengan roda empat yang rapat-rapat menunggu lampu hijau. Jeritan bising dari klakson kanan dan kiri tak juga mengalahkan bising dari suara pikiran yang meraung meminta istirahat. Sudah lelah tubuh ini bekerja, kini harus juga lelah menunggu pesan berbalas dari kamu. tidak apa-apa, aku tahu kamu sibuk dengan dunia yang asyik. hampir-hampir aku berpikir, apa kamu sudah mati tertelan cumbu? sebab story pada instagram milikmu terus menceritakan perihal bahagiamu dengan seseorang yang kau sebut adalah teman. Kita adalah sepasang yang kian berusia panjang, bukan semakin menjalin, melainkan semakin menjauh dari peluk. Entah memang ujian atau kamu yang semakin bosan diterpa banyak godaan. Sudah aku bilang, tiada jahat paling mengerikan. Ketika seseorang mengetuk pintu dengan manis lantas kau buka dengan ucapan selamat datang dengan mesra. Padahal ada aku yang duduk bersila dengan nyaman ditempat yang kita sebut sebagai rum...

Tuhan kok gak adil?

Pernah ga sih kalian ngerasa hidup kalian gak adil? mempertanyakan kepada Tuhan kenapa kamu lagi-lagi diberikan ujian yang sedemikian rupa membuat kalian terseret pedih hingga berdarah-darah menyelesaikan semua ujian itu?  Sebagai manusia biasa, hal ini mungkin saja terjadi. Dulu aku sering banget mempertanyakan ini, kenapa Tuhan ga adil? tapi, perlahan lambat laun aku membalikan pertanyaan itu.  "membalikan? membalikan gimana?" Aku bertanya balik pada diri aku sendiri, apakah aku sendiri sudah berlaku adil terhadap diri sendiri? jangan-jangan malah kita sendiri yang bikin semuanya berasa ga adil. Misal, ketika kita sibuk-sibuknya sama dunia kita, sibuk dengan segala aktivitas, aktif sana sini dan akhirnya ketika suatu hari kita dapet masalah, dapet ujian baru deh kita melontarkan pertanyaan "Kok Tuhan gak adil sih sama aku? ngasih ujian blablabla" Padahal kemarin-kemarin kamu sibuk bercumbu dengan duniamu hingga lupa pada Tuhan yang sebenarnya maha pemberi ni...

Sedikit bercerita banyak lukanya --

Perlu kamu ketahui. Aku pernah menggantungkan sebuah harapan padamu. Aku pernah menceritakan tentangmu pada temanku. Aku pernah memprioritaskanmu dalam membalas pesan. Aku pernah berpuisi perihal pertemuan kita. Aku pernah terhibur karena humormu. Aku pernah merasa nyaman sebab perhatian hangatmu. Sebelum akhirnya .. Aku harus menerima. Bahwa aku mulai dilupakan olehmu Karena harus tergantikan oleh seseorang yang jauh lebih pandai membuatmu merasa bangga untuk dimiliki. Tanpa kamu tahu dan sadari. Ada wanita yang tercabik pedih harus menerima sebuah patahan-patahan hati yang harus ia pungut dan rapihkan sendiri. Ada kesesakan dalam dadanya, menahan tangis juga pilu yang begitu menderu hebat. Aku sadar. Ini salahku.  Dengan mudahnya bersandar dengan nyaman, sampai aku lupa untuk tahu diri. Terlalu cepat bagiku untuk menggantungkan harapan yang akhirnya harus gugur karena tak lekas disambut tuannya. Maafkan aku. Jika cerita ku selalu membosankan. Obrolanku sel...

"Kala Puan bercerita pada Tuan perihal Malam yang pilu"

Jika malam ini ada ketukan Maka bukalah kedua matamu Sertakan secangkir kopi Lalu ajaklah ia berbincang Tapi jika ketukannya beribu Sepertinya ia pilu Habis berjuta cangkir pun Ia tak akan mengerti dengan rasa yang mengganggu Perlu kau tau, Tuan ... Diantara kopi juga pilu nan alur yang semu Ia sembab dan hanya sisihkan gelisah Mungkin begini keluhnya Beribu rasa sakit namun tanpa darah Berjuta iri pada Matahari yang kian selalu mengikuti para hamparan awan yang berlari dengan sejuta mimpi Bermilyar detik yang ia sesali akan tiada cahaya saat ia kembali Dan bertrilyun nafas yang mati saat ia terjaga di gelapnya pagi Collaboration ryhme by Ink. Mavia. Art and Me - July 2017

Pulanglah

Degup jantungku masih sulit aku biasakan. Dia berdetak jauh lebih cepat. Dadaku naik turun, nafasku terguncang. Sedang mataku meluruhkan air mata tanpa paksaan. Bukan karena putus cinta. Bukan pula karena terselingkuhi. Ini karena rindu juga kesal pada seseorang yang jauh di kota sebrang. Ini adalah bulan ke-4 setelah ia terlelap tanpa kabar. Sabarku sudah sulit aku redam. Mungkin ia lelah karena memikul rindu yang tak jua padam. Entah berapa pesan yang aku kirim. Entah seberapa banyak pula panggilan yang aku lakukan. Janjimu, pada saat itu "Aku akan menemuimu setiap malam sabtu pada akhir bulan" lalu kamu menggenggam tanganku kuat-kuat. Tersenyum dan menatapku dalam-dalam, lalu memeluk erat penuh harapan. Aku ingat benar bagaimana lengkungan hangat senyumanmu kala itu. Namun, semua perlahan buram pun suram. Terasa pahit jika apa yg selama ini kita lalui harus berujung pada ketidakpastian yang menyakitkan. Apa kamu tau rasanya dikecewakan? Bagaimana tidak, kamu menghilang ta...