Skip to main content

Posts

Semoga

"kok makin tua makin berat ya rasanya?" hidup emang udah kaya komedi putar, naik turun tanpa jeda. Dari segala pikulan masalah yang kau tanggung, ada banyak tepukan semangat dari orang-orang sekitar. "yuk bisa yuk? tetep kuat dan berjuang. Semangat, ya!" mereka menyemangatiku dan membiarkanku berjuang sendirian tanpa peduli bagaimana kondisiku setelahnya.  Untuk kamu yang sedang berusaha mengupayakan segala duka pilu dan beban yang lanjur kalut, beristirahatlah... Sejenak kau ambil waktu, melihat ketenangan dari belah matamu yang akhir-akhir ini terlihat sendu.  Dengarkan lagu-lagu tenang yang mungkin akan membawamu dalam kedamaian.  Setelah itu, kamu boleh kembali pada realita. Kembali dengan dirimu yang jauh lebih baik dari ini. Ingat, kamu hanya perlu menjadi diri sendiri dengan terus bertumbuh lebih baik lagi. Kita hidup untuk diri kita sendiri, selebihnya untuk mereka yang tetap ada bersama kita bagaimanapun keadaannya. Bukan egois, tapi seringkali kita diperbu...

Standarisasi Kehidupan

 "Kapan wisuda?" "kapan nikah?" "Kapan punya anak?" "Kapan nambah anak?" Pertanyaan yang membuat sebagian orang kesal, marah, sedih dan tertekan. Pertanyaan sederhana yang mengakibatkan overthinking. Pertanyaan yang bisa menjadi pembunuhan karakter di depan banyak orang. Usia yang matang atau sudah menginjak 20++ mungkin akan terlihat ringkih oleh pertanyaan ini.  Mereka lupa, bahwa setiap orang punya masa yang berbeda. Usia 22 tidak harus sudah wisuda, usia 24 tidak harus sudah menikah, usia 30 tidak harus punya anak. Semua ada pada porsi dan tempat yang berbeda. Jangan jadikan standarisasi kehidupan menjadi sama.  Setiap orang memiliki keinginan dan pencapaiannya masing-masing. Entah dari sisi apa, kita tidak harus selalu menyalahkan itu. Menikah atau belumnya seseorang adalah haknya, rezekinya, dan sudah menemukan waktu yang tepat. Bukan menikah cepat, tapi menikah di waktu yang tepat. Kapan tepatnya? Tidak harus pada usia yang sudah menjadi s...

Barangkali.

Barangkali, nanti kita bisa duduk berdua tanpa sungkan Menenggak minuman yang kau pesan dengan senang Berkelakar hingga puas pun hingga habis tanpa ampas Sedari pukul tiga sore, Masing-masing dari kita saling mempersembahkan kisah Menceritakan bagaimana sulitnya aku mencintaimu dalam diam Memupuk perasaan dari tahun ke tahun tanpa tau arah pasti Barangkali, nanti kita bisa menjadi sepasang yang membanggakan Saling rengkuh dalam setiap kalah yang kita temui. Bagaimana bisa hadirmu kian tak pernah habis dalam genggaman? Namun, pada akhirnya… Aku akan terbunuh oleh semua andai yang tersusun rapi dalam tulisan Sebab, apa yang aku harapkan kian tak kunjung datang pun apa yang aku perjuangkan tak akan membuahkan kesadaran dengan segala penantian yang aku punya.

Kepada, Ir.

Ir, kita hanya sekadar dua orang asing yang rajin saling melihat unggahan cerita di sosial media. Kita tidak lebih dari itu. Mungkin, kamu akan sedikit bingung, kenapa aku bisa menyukai seseorang yang bahkan saling menyapapun tidak pernah.  Ir, perasaan ini ada sejak dua atau tiga tahun lalu, tanpa alasan dan entah kenapa. Semua ada sejak aku sadar “eh kalo gak salah aku sama dia followan deh di Instagram”. Sejak itu, pertemuan yang tidak sengaja selalu nampak tanpa diminta dan dicari.  Meski aku tahu, hanya aku yang menyadarinya.  Hingga hari ini perasaan itu tetap ada, bodoh memang.. ketika aku memilih untuk diam, sebab aku takut jika akhirnya perasaan ini akan merubah keadaan menjadi lebih buruk. Aku takut, aku terlalu pengecut untuk ini. Maaf, perasaan ini sulit aku redam meski sudah menahun.  Aku cukup tau diri. Cukup tau bagaimana kapasitas aku yang hanya sekadar orang asing di hidup kamu. Oleh sebab itu, aku tidak akan meminta apapun dari kamu. Tidak akan memi...

(Bukan) Melupakan

  Tidak ada yang berbeda Hidupku masih begini-begini saja Tidur, berkerja dan main game Tidak ada hal yang membuatku harus berlarut dalam kerisauan Karena nyatanya, menerima adalah jalan untuk melepaskan   Kata orang aku sedang galau Sedang dilanda pilu jua duka Nyatanya memang iya – sesunggunya Namun, bukankah ini adalah sebuah proses?   Aku tidak berusaha untuk melupakannya Tida membuang semua barang pemberiannya Tidak juga menghapus foto kebersamaan yang lampau   Bagiku, berusaha melupakan adalah hal yang menyakitkan Teringat sedikit lalu menangis sedalam-dalamnya Bukankah itu sangat mengerikan?   Cukup dengan menerima maka dengan sendirinya aku akan melepaskan Jatuh sehelai demi sehelai ingatan yang sudah menjelema menjadi kenangan Jika suatu hari nanti aku ingat lagi, maka aku tidak akan apa-apa Karena bagiku kamu adalah seseorang yang pernah mengajarkanku Bahwa perbedaan keyakinan adalah jarak paling jauh di an...

Usai

Kita saling menunggu, Saling menyimpan sesuatu Namun enggan memberitahu. Hingga pada akhirnya kita saling diam dalam sapaan. Rasanya, menunggu saja sudah cukup melelahkan. @yuliseeee Apalagi jika mengejar dengan arah yang entah akan berujung impas atau ikhlas. Atau mungkin kehilangan adalah jalan terakhir dari penantian? Kita yang selama ini nampak dekat nyatanya, aku tak pernah memiliki tempat. Sebab, aku tak memiliki kuasa untuk menjadi rumah dari segala pulangmu, Kuasaku hanya sebatas mendengarkan ceritamu saja, selebihnya kau bagikan dengan seseorang yang mungkin kau anggap segalanya. meski aku tahu; hanya aku yang memiliki perasaan ganjil ini, sendirian.  Entah apa kabar perasaanmu. Sebab aku takut untuk sekadar menerka prasangka perasaanmu.  Namun percayalah, aku sudah menyiapkan satu porsi tabah yang tak kalah besar dari setiap harapan yang aku dekap dalam-dalam. Selepas dari jarak yang memisahkan kita, kepala dan hatiku kini tumbuh layaknya hutan rimba yang dipenuhi be...

Akan aku antarkan rindu..

Akan aku antarkan rindu pada setiap mata angin yang menghanyutkan segala cemas. Ia mengendapkan segala rindu melalui doa, Pun ingatan yang menghantarkan pada pahatan rindu yang melebur begitu deras.   Pada mata angin yang riuh memeluk segala asa, Aku ingin menyelam pada ketiadaan yang riak meminta ketenangan. Aku amat menikmati rindu dengan segala ketidakmungkinan, Meski penuh dengan terkaan dan kenangan yang riak meminta pertemuan.   Akan aku antarkan rindu pada mata angin yang menghanyutkan segala prasangka. Perihal kita yang selalu bertaut pada setiap cinta yang pernah ada. Kepada kita yang kini sudah beralih menjadi sejarah penuh duka.   Pada doa di sepanjang malam ini, aku banyak mengisahkan tentang pertemuan Juga perpisahan antara aku dan kau yang kini sudah beralih menjadi asing. Dan aku dengan segala ingatan yang paling kuat,  perihal hari di mana kau memutuskan antara kita untuk selesai.  Aku mengingat seluruhnya dengan amat su...