Skip to main content

Posts

Barangkali.

Barangkali, nanti kita bisa duduk berdua tanpa sungkan Menenggak minuman yang kau pesan dengan senang Berkelakar hingga puas pun hingga habis tanpa ampas Sedari pukul tiga sore, Masing-masing dari kita saling mempersembahkan kisah Menceritakan bagaimana sulitnya aku mencintaimu dalam diam Memupuk perasaan dari tahun ke tahun tanpa tau arah pasti Barangkali, nanti kita bisa menjadi sepasang yang membanggakan Saling rengkuh dalam setiap kalah yang kita temui. Bagaimana bisa hadirmu kian tak pernah habis dalam genggaman? Namun, pada akhirnya… Aku akan terbunuh oleh semua andai yang tersusun rapi dalam tulisan Sebab, apa yang aku harapkan kian tak kunjung datang pun apa yang aku perjuangkan tak akan membuahkan kesadaran dengan segala penantian yang aku punya.

Kepada, Ir.

Ir, kita hanya sekadar dua orang asing yang rajin saling melihat unggahan cerita di sosial media. Kita tidak lebih dari itu. Mungkin, kamu akan sedikit bingung, kenapa aku bisa menyukai seseorang yang bahkan saling menyapapun tidak pernah.  Ir, perasaan ini ada sejak dua atau tiga tahun lalu, tanpa alasan dan entah kenapa. Semua ada sejak aku sadar “eh kalo gak salah aku sama dia followan deh di Instagram”. Sejak itu, pertemuan yang tidak sengaja selalu nampak tanpa diminta dan dicari.  Meski aku tahu, hanya aku yang menyadarinya.  Hingga hari ini perasaan itu tetap ada, bodoh memang.. ketika aku memilih untuk diam, sebab aku takut jika akhirnya perasaan ini akan merubah keadaan menjadi lebih buruk. Aku takut, aku terlalu pengecut untuk ini. Maaf, perasaan ini sulit aku redam meski sudah menahun.  Aku cukup tau diri. Cukup tau bagaimana kapasitas aku yang hanya sekadar orang asing di hidup kamu. Oleh sebab itu, aku tidak akan meminta apapun dari kamu. Tidak akan memi...

(Bukan) Melupakan

  Tidak ada yang berbeda Hidupku masih begini-begini saja Tidur, berkerja dan main game Tidak ada hal yang membuatku harus berlarut dalam kerisauan Karena nyatanya, menerima adalah jalan untuk melepaskan   Kata orang aku sedang galau Sedang dilanda pilu jua duka Nyatanya memang iya – sesunggunya Namun, bukankah ini adalah sebuah proses?   Aku tidak berusaha untuk melupakannya Tida membuang semua barang pemberiannya Tidak juga menghapus foto kebersamaan yang lampau   Bagiku, berusaha melupakan adalah hal yang menyakitkan Teringat sedikit lalu menangis sedalam-dalamnya Bukankah itu sangat mengerikan?   Cukup dengan menerima maka dengan sendirinya aku akan melepaskan Jatuh sehelai demi sehelai ingatan yang sudah menjelema menjadi kenangan Jika suatu hari nanti aku ingat lagi, maka aku tidak akan apa-apa Karena bagiku kamu adalah seseorang yang pernah mengajarkanku Bahwa perbedaan keyakinan adalah jarak paling jauh di an...

Usai

Kita saling menunggu, Saling menyimpan sesuatu Namun enggan memberitahu. Hingga pada akhirnya kita saling diam dalam sapaan. Rasanya, menunggu saja sudah cukup melelahkan. @yuliseeee Apalagi jika mengejar dengan arah yang entah akan berujung impas atau ikhlas. Atau mungkin kehilangan adalah jalan terakhir dari penantian? Kita yang selama ini nampak dekat nyatanya, aku tak pernah memiliki tempat. Sebab, aku tak memiliki kuasa untuk menjadi rumah dari segala pulangmu, Kuasaku hanya sebatas mendengarkan ceritamu saja, selebihnya kau bagikan dengan seseorang yang mungkin kau anggap segalanya. meski aku tahu; hanya aku yang memiliki perasaan ganjil ini, sendirian.  Entah apa kabar perasaanmu. Sebab aku takut untuk sekadar menerka prasangka perasaanmu.  Namun percayalah, aku sudah menyiapkan satu porsi tabah yang tak kalah besar dari setiap harapan yang aku dekap dalam-dalam. Selepas dari jarak yang memisahkan kita, kepala dan hatiku kini tumbuh layaknya hutan rimba yang dipenuhi be...

Akan aku antarkan rindu..

Akan aku antarkan rindu pada setiap mata angin yang menghanyutkan segala cemas. Ia mengendapkan segala rindu melalui doa, Pun ingatan yang menghantarkan pada pahatan rindu yang melebur begitu deras.   Pada mata angin yang riuh memeluk segala asa, Aku ingin menyelam pada ketiadaan yang riak meminta ketenangan. Aku amat menikmati rindu dengan segala ketidakmungkinan, Meski penuh dengan terkaan dan kenangan yang riak meminta pertemuan.   Akan aku antarkan rindu pada mata angin yang menghanyutkan segala prasangka. Perihal kita yang selalu bertaut pada setiap cinta yang pernah ada. Kepada kita yang kini sudah beralih menjadi sejarah penuh duka.   Pada doa di sepanjang malam ini, aku banyak mengisahkan tentang pertemuan Juga perpisahan antara aku dan kau yang kini sudah beralih menjadi asing. Dan aku dengan segala ingatan yang paling kuat,  perihal hari di mana kau memutuskan antara kita untuk selesai.  Aku mengingat seluruhnya dengan amat su...

Bukan untuk berhenti

Kalian pernah gak sih merasa sendiri? bener-bener sendiri? Padahal kita sadar, bahwa teman kita banyak, sangat banyak. Tapi, ada saat ketika semua itu mendadak menjadi nol. Fase ketika bangun tidur dengan banyaknya harapan, lalu terlelap tidur dengan banyaknya kesedihan. Usia yang sudah bukan lagi belasan, bukan lagi hanya untuk main-main, semua terasa jauh lebih berat pun menyesakan. Seperti ingin hilang lalu menguap begitu saja hahaha… menertawakan diri sendiri dari segala pilu yang sedang dihadapi. Kamu yang sedang pontang-panting mencari pekerjaan, aku paham bagaimana sulitnya menjadi sabar. Ketika hidup haruslah tetaplah berjalan dengan segala rupiah yang harus tetap ada. Kamu yang sedang patah hati, aku paham bagaimana rasanya tersakiti berulang kali. Kehilangan rasa percaya seketika, lantas mengulas luka yang amat nyata. Kamu yang sedang rapuh sebab ditinggalkan ayah atau ibu, tabahlah. Aku paham bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang amat berarti untuk separuh...

Bandung dan ceritanya

Mari kita berbincang. Aku akan ceritakan Bandung kepadamu. Perihal hujan yang sederhana juga deras yang memikat. Terjebak berdua pun rasanya aku bahagia, sebab rintik yang jatuh akan menjadikan sejarah bagi kita. Masih dalam basah hujan, aku akan tetap berharap, kita akan terus seperti ini ; berdua. Entah hujan atau tidak.  Tidak lupa, aku akan hidangkan secangkir teh juga sepiring colenak tanpa gula, sebab dengan senyummu saja aku yakin diabetesku akan kambuh lagi.  Perlu kamu tahu, Bandung layaknya ibu. Bukan hanya tempat aku lahir juga berteduh, apalagi destinasi wisata sana sini. Bagiku Bandung adalah ibu yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.  Ingatkah sejarah Bandung Lautan Api?  Para pejuang lebih memilih membumi hanguskan kota ketimbang harus menjadikan kotanya sebagai markas sekutu. Begitu cintanya mereka pada kota yang konon diciptakan oleh Tuhan kala ia sedang tersenyum.  Mari beralih dari sejarah.  Bandung dengan segala ruas jalan yang m...