Skip to main content

Posts

Aliran Duka

Hidup akan tetap berjalan, apapun yang terjadi Begitupun dengan patah hatimu hari ini Perasaan yang kau dekap diam-diam Harus berakhir duka dalam-dalam Bisakah kupeluk tubuh itu? Ia sudah berantakan dengan amat Pada wajahnya, ia masih mengalirkan duka Dan dadanya masih berdegup menahan luka   Pada tembok kamarnya, Tersimpan banyak memori paling rahasia Ia menjadi saksi atas segala keluh yang tersisa Seluruhnya terekam dengan sempurna tanpa ia paksa   Bisakah kubagi separuh duka ini? Entah pada meja yang pernah bersulang tawa Atau pada cermin tempat kita bertegur sapa Namun percayalah, aku sudah menyiapkan satu porsi tabah yang tak kalah besar dari setiap harapan yang aku dekap dalam-dalam.

Menjemput Tenang

Pagi ini, kita tertinggal lagi dari pembebasan diri. Ia seperti jarum jam yang mati tanpa daya, ia berputar tanpa arah. Seperti anak yang berdusta pada titah seorang ibu. Berjalan keluar rumah dan berbaring di pelataran jalan dan berharap mati kelaparan. Dalam kepalanya bergeriliya, ia hampir lupa. Bahwa dunia tidak sesempit kamar rumahnya. Malam ini, ia mulai bangun dari kepasrahannya. Melihat seisi kamar yang masih utuh, belum terjamah oleh ketenangan. Ia menghadap tembok, berbicara dengan sukarela. Sebab ia tau, pada tembok inilah semua memori terekam dengan jeli. Entah tangisan ataupun amarah, semua disaksikan tembok kamar yang berdiri tanpa kaki. Entah sudah berapa lembar kalender yang ia lewatkan, sebab ia sudah tak lagi peduli pada waktu yang hanya bergeser tanpa mau menunggunya kembali pulih. Pada rumahnya, ia lupa arah menuju pintu keluar. Ia lupa bagaimana warna cahaya matahari yang harusnya masuk melalui celah antara jendela dan kain gorden. Matanya basah lagi, ia tida...

Tubuh yang harus kurengkuh

Apa yang tersisa dari tangisanmu malam tadi? Mata sembab atau asa yang luruh tanpa jeda? Ia abu-abu, entah pura-pura atau bahagia sungguhan. Bisakah kita bicara sebentar? Kepada tembok kamar yang diam-diam menjadi tempat paling rahasia. Ia menyimpan banyak memori, tentang bagaimana ia menyaksikan sosok yang menangis di balik selimut sesenggukan. Di atas bantal yang ia jadikan topangan kepala yang penuh dengan beban. Tidak ada cahaya apapun, meski sesekali ponsel itu berdering dengan senyap. Bisakah kupeluk dahulu tubuh itu? Aku ingin memastikan, bahwa hidup bukan tentang gagal lagi dan berhenti. aku ingin menepuk pundak yang semakin menyusut itu, ada harapan yang perlu diraih lagi. Sebab hidup masihlah panjang. Kita perlu bergerak dan bertumbuh. Bukan diam dan mati memungut pasrah. Tetaplah menjadi dirimu dengan versi terbaru yang jauh lebih baik lagi. Selamat mengarungi usia, ia tidak abadi. Namun ia layak kau beri kesempatan lagi. 

Perempuan Atas Haknya

Perempuan, tidak hanya dihadapkan pada pilihan, perempuan seringkali dihadapkan oleh tekanan sosial yang lahir dari stigma masyarakat. ada kalanya perempuan terjebak dalam lingkungan yang menganut stigma kuno. Perempuan yang kakinya terikat oleh pilihan, ia harus memilih antara menjadi ibu rumah tangga atau mengejar karir yang tinggi. Perempuan yang langkahnya menjadi sempit, ia diterkam kebebasannya dalam mencari relasi dan wawasan. Perempuan yang pendidikannya terputus, ia dilucuti oleh realitas kuno yang mana perempuan hanya akan berakhir di dapur belaka.  Padahal, jauh dari itu semua. Perempuan berhak atas pilihannya sendiri, bukan atas tuntutan dan tekanan yang membuat bahunya menjadi nampak terlihat lemah. Perempuan, entah memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, wanita karir ataupun menjadi keduanya adalah sebuah pilihan yang lahir atas kehendaknya sendiri.  Perempuan berhak atas segala mimpi dan cita-citanya, ia berhak memiliki suara yang sama dengan laki-laki. Perempua...
Dalam kepalaku,  ada banyak narasi di kepala tentang pertukaran perasaan yang lagi-lagi gagal untuk tuntas. alih-alih kuperas air mataku lamat-lamat kulempar dengan pasrah pada langit yang sendu sedari pagi Mungkin, kau akan bertanya sudah kenyangkah aku dengan kegagalan? Seolah-olah harapan yang kugenggam memiliki sembilan nyawa ia kuat, lebih kuat dari hari kemarin Ia tertawa dengan girang, memungut kilat yang berceceran diambang langit menuju sore Aku, masih tersungkur dengan perasan air mata yang tak jua habis pun mati Ia masih kuat, menggendong harapan yang tak habis dibunuh oleh realitas

Utuh atau Separuh

Kamu adalah buku yang sulit aku baca. Namun nyatanya, melalui seutas sinopsis yang kubaca ini, akhirnya aku menaruh hati dengan tiba-tiba. Jika berkenan, bolehkah aku membacanya dengan seksama hingga selesai? Setelah itu kau boleh kembali, sebab aku tau bahwa kamu memang tidak bisa aku miliki dengan utuh ataupun separuh. Kamu, sesuatu yang hanya bisa aku lihat dengan samar. Banyak lembar yang ingin aku baca, melafalkan daftar isi yang telah mencuri perhatianku akhir-akhir ini. Jika selesai sudah aku membacanya, aku akan tau seberapa pantas aku untuk memiliki buku ini. Ah, apa mungkin bukunya sudah dimiliki dengan penuh?  Mungkin aku adalah seorang pembaca yang penakut. Sebab, untuk sekadar menatapnya saja aku ragu. Apa lagi membaca dengan seksama. Aku takut menemukan bab yang berisi tentang seseorang yang kau cintai. Aku belum begitu siap untuk jatuh dan terkapar dengan patahan harapan yang kupunya. Tidak apa-apa, aku cukup tau untuk ini. Terima kasih, ya? Sudah mampir di beberapa ...

Untuk Pertama Kalinya

"Ibu, aku pulang ke Bandung, ya?" Percakapan singkat tentang pulang kepada rumah yang sesungguhnya. Hujan malam ini menuntun kepada duka yang tak berjeda. Jalanan sudah basah, kereta yang membawaku kini sepi dimakan waktu, namun kepalaku riuh membawa dialog antara luka dan kehilangan tadi pagi. Tidak ada yang kukantongi untuk oleh-oleh, sebab tangisan sudah kubawa sebagai bingkisan.  Jauh sebelum hujan luruh dengan deras malam ini, sudah kupersiapkan obat tidur untuku di perjalanan. Sebab aku tahu, perjalanan malam ini akan terasa panjang dan melelahkan.  Kereta yang kutumpangi seakan berjalan terbata-bata. Ia melaju dengan payah, tanpa peduli sudah berapa banyak air mata yang ingin aku tumpahkan pada pelukan yang paling aku butuhkan saat ini.  Belum sampai di pemberhentian pertama, aku sudah lebih dulu terbangun dari tidur yang amat sesak. Kereta, bisakah kau melaju lebih cepat? tangisku sudah kering, namun luka yang kubawa sudah semakin menganga dan amat perih. "Bu, an...