Skip to main content

Posts

Terhenti Pada Titik

Aku kira setelah bertahun-tahun aku memilih sendiri dan akhirnya aku memilih untuk kembali menerima ketukan seseorang akan menjadikan aku kembali pulih pelan-pelan. Aku kira, aku akan mendapatkan rumah tempat aku pulang dari lelahnya kehidupan. Ternyata tidak, seseorang yang aku kira akan menjadi rumah nyaman tempat aku bercerita malah menjadikanku sepi yang sama saja. Aku tetap merasa harus berjuang sendirian, aku tetap harus berjalan sendirian, dan aku harus tetap menyeka lelahku sendirian.  Jika sibuk adalah alasanmu, lalu kapan kita bisa bersua? Kabar tentang kau pulang saja sudah tidak lagi aku dengar meski ini adalah hal sederhana yang bernilai besar bagiku. Entah komunikasi ataupun pertemuan, semuanya berangsur hilang dari permukaan.  Dan aku tetap di sini, menyimpan banyak cerita yang lagi-lagi harus aku telan sendirian. Sebab nyatanya, kamar adalah bentuk dari tubuh yang selalu setia mendengarkan tawa dan tangis setiap malamnya. Terima kasih, sebab pertemuan di siang ...

Tanpa Judul

Hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu akan berdampak hingga kapanpun. Hal ini tuh kerasa banget, makin kesini bukannya lupa, malah semakin nampak jelas. Ada banyak ketakutan untuk sekadar mengenal orang baru. Takut tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, takut tidak diterima dengan apa yang kupunya. Berat banget rasanya.  Kenapa perasaan itu ada? karena aku pernah, bahkan berkali-kali tidak diterima dengan baik oleh lingkungan karena fisik yang tidak menarik. Berkali kali aku harus menelan semua yang aku terima bertahun-tahun. Setiap kali aku mendapatkan "omongan jahat" itu, aku selalu menerimanya dengan pasrah dan sadar diri. Speak up? ah rasanya akan sulit, yang ada nanti malah dibilang baperan hehe diteriakin jelek, ga diajak, gaada tebengan, atau bahkan obrolan yang mengarah tentang fisik yang tidak menrik inilah yang aku terima dari tahun ke tahun. Capek rasanya, sebelum tidur selalu kebayang masa-masa itu, suara-suaranya masih berisik dalam kepala. Bahkan masih nam...

Rumpang

Sesekali, kau perlu sambangi kursi itu Ia lengang dimakan waktu Sedang kopi dan teh itu,  masih utuh meski asapnya hilang ditelan abai Televisi adalah teman langgeng tempat ia berdamai meski berdebu, ia tetap nyala dalam tenang Bentuk guratannya semakin nampak tersurat raut senyumnya masih menyala dengan hangat Pun tangannya, Ia masih mampu menuntunmu dengan sentosa Meski langkahnya renta tertelan usia  Jemalanya penuh sudah Rimba dipenuhi memori hari tua yang lelah Ia masih di sana, duduk dengan remote yang cacat Menunggu ketukan yang dibuka tanpa syarat Pulanglah, dengan atau tanpa euforia Mereka hanya perlu anaknya ada bukan rupiah apalagi takhta Pulanglah, beri jeda dari jarak yang sudah rumpang 

Tertinggal

Pernah gak kamu merasa tertinggal? Merasa bahwa kamu hanya berjalan di tempat sendirian, sedangkan teman-temanmu sudah berjalan lebih depan dari dirimu.  Semua nampak menyedihkan, bahkan keadaan mungkin sudah memaksamu untuk menarik diri lebih sadar lagi. Bahwa inilah waktunya kita berbenah, melewati banyak hal sendirian. Sebab rasanya, dirimu sendirilah yang mampu membersamai.  Semua berjalan dan berlari melampaui dirimu, meninggalkan dan nampak tidak akan peduli seberapa jatuhnya kamu. Peluk saja tubuhmu sendiri, usap saja air matamu sendiri, dan berterimakasihlah pada dirimu sendiri. Kamu akan tumbuh dengan segala proses yang kau lalui. Cepat atau lambat, fase ini akan kau lewati dengan baik. Jangan berhenti lantas menyerah, ya?

Aliran Duka

Hidup akan tetap berjalan, apapun yang terjadi Begitupun dengan patah hatimu hari ini Perasaan yang kau dekap diam-diam Harus berakhir duka dalam-dalam Bisakah kupeluk tubuh itu? Ia sudah berantakan dengan amat Pada wajahnya, ia masih mengalirkan duka Dan dadanya masih berdegup menahan luka   Pada tembok kamarnya, Tersimpan banyak memori paling rahasia Ia menjadi saksi atas segala keluh yang tersisa Seluruhnya terekam dengan sempurna tanpa ia paksa   Bisakah kubagi separuh duka ini? Entah pada meja yang pernah bersulang tawa Atau pada cermin tempat kita bertegur sapa Namun percayalah, aku sudah menyiapkan satu porsi tabah yang tak kalah besar dari setiap harapan yang aku dekap dalam-dalam.

Menjemput Tenang

Pagi ini, kita tertinggal lagi dari pembebasan diri. Ia seperti jarum jam yang mati tanpa daya, ia berputar tanpa arah. Seperti anak yang berdusta pada titah seorang ibu. Berjalan keluar rumah dan berbaring di pelataran jalan dan berharap mati kelaparan. Dalam kepalanya bergeriliya, ia hampir lupa. Bahwa dunia tidak sesempit kamar rumahnya. Malam ini, ia mulai bangun dari kepasrahannya. Melihat seisi kamar yang masih utuh, belum terjamah oleh ketenangan. Ia menghadap tembok, berbicara dengan sukarela. Sebab ia tau, pada tembok inilah semua memori terekam dengan jeli. Entah tangisan ataupun amarah, semua disaksikan tembok kamar yang berdiri tanpa kaki. Entah sudah berapa lembar kalender yang ia lewatkan, sebab ia sudah tak lagi peduli pada waktu yang hanya bergeser tanpa mau menunggunya kembali pulih. Pada rumahnya, ia lupa arah menuju pintu keluar. Ia lupa bagaimana warna cahaya matahari yang harusnya masuk melalui celah antara jendela dan kain gorden. Matanya basah lagi, ia tida...

Tubuh yang harus kurengkuh

Apa yang tersisa dari tangisanmu malam tadi? Mata sembab atau asa yang luruh tanpa jeda? Ia abu-abu, entah pura-pura atau bahagia sungguhan. Bisakah kita bicara sebentar? Kepada tembok kamar yang diam-diam menjadi tempat paling rahasia. Ia menyimpan banyak memori, tentang bagaimana ia menyaksikan sosok yang menangis di balik selimut sesenggukan. Di atas bantal yang ia jadikan topangan kepala yang penuh dengan beban. Tidak ada cahaya apapun, meski sesekali ponsel itu berdering dengan senyap. Bisakah kupeluk dahulu tubuh itu? Aku ingin memastikan, bahwa hidup bukan tentang gagal lagi dan berhenti. aku ingin menepuk pundak yang semakin menyusut itu, ada harapan yang perlu diraih lagi. Sebab hidup masihlah panjang. Kita perlu bergerak dan bertumbuh. Bukan diam dan mati memungut pasrah. Tetaplah menjadi dirimu dengan versi terbaru yang jauh lebih baik lagi. Selamat mengarungi usia, ia tidak abadi. Namun ia layak kau beri kesempatan lagi.