Skip to main content

Posts

Dalam kepalaku,  ada banyak narasi di kepala tentang pertukaran perasaan yang lagi-lagi gagal untuk tuntas. alih-alih kuperas air mataku lamat-lamat kulempar dengan pasrah pada langit yang sendu sedari pagi Mungkin, kau akan bertanya sudah kenyangkah aku dengan kegagalan? Seolah-olah harapan yang kugenggam memiliki sembilan nyawa ia kuat, lebih kuat dari hari kemarin Ia tertawa dengan girang, memungut kilat yang berceceran diambang langit menuju sore Aku, masih tersungkur dengan perasan air mata yang tak jua habis pun mati Ia masih kuat, menggendong harapan yang tak habis dibunuh oleh realitas

Utuh atau Separuh

Kamu adalah buku yang sulit aku baca. Namun nyatanya, melalui seutas sinopsis yang kubaca ini, akhirnya aku menaruh hati dengan tiba-tiba. Jika berkenan, bolehkah aku membacanya dengan seksama hingga selesai? Setelah itu kau boleh kembali, sebab aku tau bahwa kamu memang tidak bisa aku miliki dengan utuh ataupun separuh. Kamu, sesuatu yang hanya bisa aku lihat dengan samar. Banyak lembar yang ingin aku baca, melafalkan daftar isi yang telah mencuri perhatianku akhir-akhir ini. Jika selesai sudah aku membacanya, aku akan tau seberapa pantas aku untuk memiliki buku ini. Ah, apa mungkin bukunya sudah dimiliki dengan penuh?  Mungkin aku adalah seorang pembaca yang penakut. Sebab, untuk sekadar menatapnya saja aku ragu. Apa lagi membaca dengan seksama. Aku takut menemukan bab yang berisi tentang seseorang yang kau cintai. Aku belum begitu siap untuk jatuh dan terkapar dengan patahan harapan yang kupunya. Tidak apa-apa, aku cukup tau untuk ini. Terima kasih, ya? Sudah mampir di beberapa ...

Untuk Pertama Kalinya

"Ibu, aku pulang ke Bandung, ya?" Percakapan singkat tentang pulang kepada rumah yang sesungguhnya. Hujan malam ini menuntun kepada duka yang tak berjeda. Jalanan sudah basah, kereta yang membawaku kini sepi dimakan waktu, namun kepalaku riuh membawa dialog antara luka dan kehilangan tadi pagi. Tidak ada yang kukantongi untuk oleh-oleh, sebab tangisan sudah kubawa sebagai bingkisan.  Jauh sebelum hujan luruh dengan deras malam ini, sudah kupersiapkan obat tidur untuku di perjalanan. Sebab aku tahu, perjalanan malam ini akan terasa panjang dan melelahkan.  Kereta yang kutumpangi seakan berjalan terbata-bata. Ia melaju dengan payah, tanpa peduli sudah berapa banyak air mata yang ingin aku tumpahkan pada pelukan yang paling aku butuhkan saat ini.  Belum sampai di pemberhentian pertama, aku sudah lebih dulu terbangun dari tidur yang amat sesak. Kereta, bisakah kau melaju lebih cepat? tangisku sudah kering, namun luka yang kubawa sudah semakin menganga dan amat perih. "Bu, an...

Melawan Ketidakberdayaan

Perempuan dengan segala stigma yang melekat pada diri mereka. Stigma yang lahir dari mulut rahim masyarakat pun sanak saudara. Mereka menganggap bahwa perempuan yang baik adalah mereka yang menikah sebelum usia 25 tahun. Perempuan, sering dihadapkan oleh pilihan yang sebenarnya bisa mereka ambil keduanya. Sejatinya, perempuan memiliki hakikat mengandung, melahirkan, merawat anak dan melayani suami. Namun, apakah hal tersebut menutup kemungkinan jika seorang perempuan bisa mencapai pendidikan dan karir yang tinggi?.  Perempuan berhak untuk mencapai pendidikan dan karir yang tinggi. Sebagaimana impian mereka masing-masing sedari dini. Perempuan berhak bersuara lantang melawan ketidakadilan yang lagi-lagi berpihak pada mereka yang memiliki kekuatan, perempuan berhak melangkah jauh untuk mencapai impian mereka, perempuan berhak melawan ketidakberdayaan yang kini nyata di depan mata. Bagaimana bisa, jika pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dianggap sebagai hal yang tidak perlu di...

SINERGI TOLERANSI DI MASA PANDEMI

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata “Pandemi?” Pandemi seringkali mengingatkan kita banyak hal, termasuk kesulitan. Kesulitan di masa pandemi menanggalkan banyak cerita duka dari berbagai kalangan. Menurut data yang dipublikasikan oleh Tempo.co bahwa jumlah pekerja yang terkena PHK selama bulan Juni 2020 telah mencapai 3,05 juta. Namun, rilis terbaru yang dikeluarkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) jumlah pekerja yang di PHK terdapat 24 juta   sampai dengan tanggal 9 Agustus 2021. Hal tersebut berakibat terhadap ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di desa maupun di kota. Tidak sedikit masyarakat yang masih memilki finasial yang stabil ikut urun tangan untuk saling membantu satu sama lain. Berbagai donasi dari berbagai komunitas maupun pribadi ini lahir untuk semua orang yang layak untuk dibantu. Tidak terbatas oleh perbedaan apapun. Pandemi ini sekaligus menguji kepekaan kita terhadap sesama, sekaligus menjadikan kita untuk lebih mengerti, bahwa ap...

MENJUNJUNG DEMOKRASI DENGAN TOLERANSI

Usia bangsa sudah mulai senja, ribaan histori dari masa ke masa.  Meninggikan demokrasi yang tak lagi serasi. Indonesia kini menginjak usia 76 tahun. Negara yang katanya kaya akan keberagaman. Entah itu agama, bahasa, atau adat sekalipun. Namun, apa yang sudah kita dapatkan dari usia yang semakin renta ini? Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Apa kita sudah benar-benar bersatu padu dalam menjalin kesejateraan bangsa? Atau mungkin kita hanya terbebaskan dari jajahan asing yang dulu porakporandakan tanah kita saja. Sisanya, kita lihat pada Indonesia bagian pelosok. Mengutip pembahasan dari salah satu jurnal yang berjudul “Toleransi: Nilai dalam Pelaksanaan Demokrasi” pengertian luas dari demokrasi itu sendiri adalah “kebaikan dalam kebebasan. Di mana sebuah toleransi menjadi hal penting dari pelaksanaannya demokrasi tersebut. Jadi, toleransi bisa dimaksudkan sebagai kemampuan dan kemauan orang itu sendiri dan masyarakat umum untuk berhati-hati terhadap hak-hak golongan kecil/...

Hilang Tempat

Serintik cerita yang luruh membentuk menjadi sebuah dialog, rentak-hentak menghujam ingatan tentang kita yang tak lagi menjadi satu. Ada banyak tangis di ujung kamar tempat aku mengangkat teleponmu kala itu. Hujan sore tadi, menabur rindu kepada seseorang yang kini sudah asing di telepon genggam.  Di luar rumah ada gemuruh petir carut marut, sedang aku sudah sembab dikurung selimut. Aku mengenangmu sebagai petrikor paling melekat. Ketika basah tanah di pagi hari adalah sisa hujan semalaman tanpa ampun. Aku mengingatmu seperti bias cahaya senjakala yang jatuh di antara garis jendela, tempat aku membalas pesan singkat melalui telepon genggam yang kini sudah sepi dimakan "Selamat tinggal". Aku merindukanmu seperti lagu-lagu lama yang tiba-tiba aku dengarkan melalui kepala yang pernah bersandar pada pundak milikmu itu. Aku merasa sepi dengan mata tertutup dan dada yang berdegup.  Namamu, berputar dengan rapi dalam jemala. Beberapa pernah kuhentikan, sisanya masih riuh memenuhi ru...