Skip to main content

Posts

Merayakan Kekalahan

Di dunia yang luas ini, entah kenapa aku harus mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Nampak bodoh emang, tapi aku bisa apa? Menjatuhkan hati kepadamu bukan sebuah pilihan, sebab semuanya terjadi di luar kendaliku.  Aku mencintai segala rumit yang ada dalam kepalamu. Mencintai sesuatu yang tidak orang lain lihat dengan semestinya.  Sayangnya, aku tidak setabah itu dalam memahami kenyataan. Aku tidak sekuat itu untuk melihat nanar mata yang masih lekat menyimpan masa lalu. Kamu sudah melalui banyak hal, bertumbuh, hancur, lalu terbentuk lagi. Proses yang kamu lalui bersama seseorang yang masih kamu ingat dengan sangat. Perjalanan waktu 7 tahun bukan hal yang mudah memang, dan aku yang baru saja datang ini seperti orang bodoh yang tidak mengerti bagaimana kamu dan isi kehidupanmu. Seharunya, waktu kamu bilang "cintaku habis di masa lalu" aku mundur dan sadar bahwa akan ada banyak hal pahit jika aku terus melangkah maju. Seharusnya, aku tidak membuka pintu i...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...

Kembali Merapikan Kegagalan

  Untuk kamu yang sedang melalui hal hal berat belakangan ini, terima kasih ya? Karena sudah mau bertahan sampai saat ini. Terima kasih sudah mau bersabar untuk bisa merapikannya satu persatu. Terima kasih, karena kamu tidak mengambil langkah untuk mengakhiri segalanya. Jika hari ini kamu sudah cukup lelah, maka ajak dirimu sendiri untuk rehat sebentar saja. Lakukan apapun yang kau suka. Mendengarkan lagu favorit, menonton film terbaru, membeli barang idaman, makan makanan yang kausuka atau mungkin cukup dengan merebahkan diri di kamar tanpa harus memikirkan ini dan itu. Kita sudah mengupayakan sesuatu dengan sebaik mungkin. Kita tidak bisa mengatur bagaimana hasil yang akan kita dapatkan nanti. Tuhan Maha Tahu atas segala proses yang dilalui setiap manusia. Toh, jika kita gagal pun itu artinya Tuhan percaya, bahwa kita mampu untuk berbesar hati. Semua ada waktunya masing-masing. Kita cukup berupaya dan bersabar. Perlu disadari, kita sudah berjalan sejauh ini buka...

Sudut Bulan April

Dalam banyaknya narasi yang kerap ganjil, seseorang menemuiku ke sudut bulan April. Sore itu ditemaninya dengan gerak angin yang tenang, burung gereja yang memburu pulang, pun ilir mesra yang teduh juga indah. Kita berbincang tak habis-habis, dan aku masih saja tak lepas terpaku pada kehangatan yang kudekap sore itu; aku mengingat dengan sangat cerita yang sudah kau bagi padaku; aku bersumpah aku tak melewati sedikit pun setiap kalimatmu; aku lebih senang berlama-lama denganmu, merekam setiap tingkahmu, menghitung satu-satu gerat halus di wajahmu, menyelami bola matamu, dan mencubit tanganmu sesekali. ;tentu saja, aku sangat pandai merahasiakan kekaguman itu, ;sebab helainya kini sedang kurindukan dan sulit kuredam dengan apik. Kau pun seketika tak lagi banyak bicara, diam, dan sesekali memalingkan wajah itu. apa kita sedang merona berdua? atau jangan-jangan hanya aku saja? kemudian kita pulang dengan banyak monolog dengan tanda tanya. Mungkin aku 𝒋𝒂𝒕𝒖𝒉 𝒄𝒊𝒏...

Terhenti Pada Titik

Aku kira setelah bertahun-tahun aku memilih sendiri dan akhirnya aku memilih untuk kembali menerima ketukan seseorang akan menjadikan aku kembali pulih pelan-pelan. Aku kira, aku akan mendapatkan rumah tempat aku pulang dari lelahnya kehidupan. Ternyata tidak, seseorang yang aku kira akan menjadi rumah nyaman tempat aku bercerita malah menjadikanku sepi yang sama saja. Aku tetap merasa harus berjuang sendirian, aku tetap harus berjalan sendirian, dan aku harus tetap menyeka lelahku sendirian.  Jika sibuk adalah alasanmu, lalu kapan kita bisa bersua? Kabar tentang kau pulang saja sudah tidak lagi aku dengar meski ini adalah hal sederhana yang bernilai besar bagiku. Entah komunikasi ataupun pertemuan, semuanya berangsur hilang dari permukaan.  Dan aku tetap di sini, menyimpan banyak cerita yang lagi-lagi harus aku telan sendirian. Sebab nyatanya, kamar adalah bentuk dari tubuh yang selalu setia mendengarkan tawa dan tangis setiap malamnya. Terima kasih, sebab pertemuan di siang ...

Tanpa Judul

Hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu akan berdampak hingga kapanpun. Hal ini tuh kerasa banget, makin kesini bukannya lupa, malah semakin nampak jelas. Ada banyak ketakutan untuk sekadar mengenal orang baru. Takut tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, takut tidak diterima dengan apa yang kupunya. Berat banget rasanya.  Kenapa perasaan itu ada? karena aku pernah, bahkan berkali-kali tidak diterima dengan baik oleh lingkungan karena fisik yang tidak menarik. Berkali kali aku harus menelan semua yang aku terima bertahun-tahun. Setiap kali aku mendapatkan "omongan jahat" itu, aku selalu menerimanya dengan pasrah dan sadar diri. Speak up? ah rasanya akan sulit, yang ada nanti malah dibilang baperan hehe diteriakin jelek, ga diajak, gaada tebengan, atau bahkan obrolan yang mengarah tentang fisik yang tidak menrik inilah yang aku terima dari tahun ke tahun. Capek rasanya, sebelum tidur selalu kebayang masa-masa itu, suara-suaranya masih berisik dalam kepala. Bahkan masih nam...

Rumpang

Sesekali, kau perlu sambangi kursi itu Ia lengang dimakan waktu Sedang kopi dan teh itu,  masih utuh meski asapnya hilang ditelan abai Televisi adalah teman langgeng tempat ia berdamai meski berdebu, ia tetap nyala dalam tenang Bentuk guratannya semakin nampak tersurat raut senyumnya masih menyala dengan hangat Pun tangannya, Ia masih mampu menuntunmu dengan sentosa Meski langkahnya renta tertelan usia  Jemalanya penuh sudah Rimba dipenuhi memori hari tua yang lelah Ia masih di sana, duduk dengan remote yang cacat Menunggu ketukan yang dibuka tanpa syarat Pulanglah, dengan atau tanpa euforia Mereka hanya perlu anaknya ada bukan rupiah apalagi takhta Pulanglah, beri jeda dari jarak yang sudah rumpang