Skip to main content

Posts

Ternyata, aku adalah salah satu pilihan

Dulu kamu pernah bilang “Kalo ada yang lebih baik dari aku, sama dia aja gapapa” makanya aku coba untuk membuka hati untuk yang lain. Meskipun hasilnya nihil, aku akan tetap membukanya.   Hingga pada akhirnya malah kamu yang lebih dulu punya pilihan lain selain aku dan aku pura-pura ga tau. Sekarang kamu bilang “kasih aku kesempatan sekali lagi” “aku pastikan cintanya setara” “ayo berjuang dari nol bareng-bareng” Tapi maaf, aku udah cape. Capee banget. Energiku rasanya udah terkuras dengan banyak hal yang terjadi selama kita kenal. Rasanya udah cukup aku ngerasain sakitnya sendirian hingga aku bertanya-tanya “apa aku tidak selayak itu untuk dicintai dan dihargai?” Ma, ternyata mencintai dan tidak dihargai itu rasa sakitnya membekas ya? Hingga aku takut untuk melangkah lagi. Ma, ternyata aku setidak layak itu ya untuk sekedar mendapatkan cinta yang setara?  Ma, jika saja aku bisa memilih kepada siapa aku bisa jatuh cinta. Aku ingin menaruh cinta ini sepenuhnya hanya kepadamu da...

Jadi, masih mau bertahan, kan?

Halo, apa kabar? Gimana hari ini? Seneng? Cape? Gak apa-apa, semua hal buruk yang kamu lewatin hari ini gak akan selamanya, kok. Cape? Istirahat, ya. Seandainya sekarang kamu lagi ngerasain sedih, marah, kecewa atau apapun itu, semuanya wajar. Kamu boleh nangis dan bersedih, tapi janji ya gak lama-lama?  Perlu kamu ingat, hidup tidak melulu tentang pencapaian, mendapatkan sesuatu yang kau inginkan tidak akan selalu bergaris pada harapan. Melainkan tentang bagaimana kamu bisa menerima, melepaskan dan mengikhlaskan. Meski hidup terbata-bata, semuanya akan terus berjalan, sayang. Kamu enggak harus berlari untuk mencapai garis itu. Pelan juga engga apa-apa, kok. Semua akan sampai pada waktu yang tepat.  Tanpa kamu sadari, dirimu sudah mencapai titik hebat di luar dugaanmu. Kamu bisa bertahan di titik ini, dan tidak mengambil langkah untuk menyerah. Selama ini, kamu hanya takut akan rasa kecewa karena garis-garis mimpi yang sudah kau susun bisa gagal seketika. Padahal, semua ketaku...

2020 Tahun Penuh Pelajaran Baru

Banyak sesak yang kita lalui, bahkan terlalu berat untuk kita pikul hingga sampai pada akhirnya kita bisa bertahan pada titik ini. Setiap manusia pasti memili titi terendahnya masing-masing. Titik terendah dengan versi dan porsinya tesendiri.  Begitu pun dengan titik terendahku, tahun 2020 adalah tahun penuh pelajaran baru. Tepat setengah dari tahun ini, bulan Juni. Aku harus melihat kedua orang tuaku terbaring di rumah sakit. Dari aku yang pertama kali mendonorkan darah untuk menyelamatkan bapak pra operasi. Dari aku yang hilir mudik mengurus administrasi rumah sakit sendirian dengan mata sembab pada tanggal 15 Juni 2020. Kamar mereka bersebelahan. Tapi, bapak gak tau bahwa pasien di kamar sebelah adalah istrinya. Berat rasanya, ketika harus berbohong pada bapak, kalo mama lagi istirahat di rumah karena kecapean aja. Padahal, mama lagi di rawat juga di sebelah. Tau gak sih rasanya harus makan dengan terpaksa biar diri sendiri gak ikutan sakit tapi pas nelen makanan rasanya tenggor...

Merayakan Kekalahan

Di dunia yang luas ini, entah kenapa aku harus mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Nampak bodoh emang, tapi aku bisa apa? Menjatuhkan hati kepadamu bukan sebuah pilihan, sebab semuanya terjadi di luar kendaliku.  Aku mencintai segala rumit yang ada dalam kepalamu. Mencintai sesuatu yang tidak orang lain lihat dengan semestinya.  Sayangnya, aku tidak setabah itu dalam memahami kenyataan. Aku tidak sekuat itu untuk melihat nanar mata yang masih lekat menyimpan masa lalu. Kamu sudah melalui banyak hal, bertumbuh, hancur, lalu terbentuk lagi. Proses yang kamu lalui bersama seseorang yang masih kamu ingat dengan sangat. Perjalanan waktu 7 tahun bukan hal yang mudah memang, dan aku yang baru saja datang ini seperti orang bodoh yang tidak mengerti bagaimana kamu dan isi kehidupanmu. Seharunya, waktu kamu bilang "cintaku habis di masa lalu" aku mundur dan sadar bahwa akan ada banyak hal pahit jika aku terus melangkah maju. Seharusnya, aku tidak membuka pintu i...

Perjalanan manusia seperempat abad

Pada perjalanan manusia yang semakin dewasa , katanya kita akan semakin sering melalui hal-hal pahit sendirian. Berdampingan dengan banyaknya sesak yang menumpuk di ambang malam hingga pagi menjelang. Perihal banyaknya mimpi yang gagal, harapan yang usang, pun realita yang semakin menyesakan. Ironisnya, orang dewasa seringkali dilarang untuk merayakan kesedihan dan kehilangan. Kita dipaksa untuk merayakannya sendirian di dalam selimut di kamar penuh kerahasiaan. “Mengapa harus menangis sendirian?” diriku berumur 7 tahun bertanya dengan lugu “Aku pernah membagi duka, namun dunia malah menghakimi. Katanya, luka mereka lebih menganga ketimbang luka yang kumiliki”. Aku di umur 7 tahun, tak pernah berpikir bahwa menjadi manusia dewasa akan seberat ini. Menganggap gagal hanya untuk bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Gagal dalam mencapai harapan yang dulu kita cita-citakan. Merasa tertinggal dari banyaknya pencapaian orang-orang pada umumnya. Pada deretan angka yang semakin ber...

Kembali Merapikan Kegagalan

  Untuk kamu yang sedang melalui hal hal berat belakangan ini, terima kasih ya? Karena sudah mau bertahan sampai saat ini. Terima kasih sudah mau bersabar untuk bisa merapikannya satu persatu. Terima kasih, karena kamu tidak mengambil langkah untuk mengakhiri segalanya. Jika hari ini kamu sudah cukup lelah, maka ajak dirimu sendiri untuk rehat sebentar saja. Lakukan apapun yang kau suka. Mendengarkan lagu favorit, menonton film terbaru, membeli barang idaman, makan makanan yang kausuka atau mungkin cukup dengan merebahkan diri di kamar tanpa harus memikirkan ini dan itu. Kita sudah mengupayakan sesuatu dengan sebaik mungkin. Kita tidak bisa mengatur bagaimana hasil yang akan kita dapatkan nanti. Tuhan Maha Tahu atas segala proses yang dilalui setiap manusia. Toh, jika kita gagal pun itu artinya Tuhan percaya, bahwa kita mampu untuk berbesar hati. Semua ada waktunya masing-masing. Kita cukup berupaya dan bersabar. Perlu disadari, kita sudah berjalan sejauh ini buka...

Sudut Bulan April

Dalam banyaknya narasi yang kerap ganjil, seseorang menemuiku ke sudut bulan April. Sore itu ditemaninya dengan gerak angin yang tenang, burung gereja yang memburu pulang, pun ilir mesra yang teduh juga indah. Kita berbincang tak habis-habis, dan aku masih saja tak lepas terpaku pada kehangatan yang kudekap sore itu; aku mengingat dengan sangat cerita yang sudah kau bagi padaku; aku bersumpah aku tak melewati sedikit pun setiap kalimatmu; aku lebih senang berlama-lama denganmu, merekam setiap tingkahmu, menghitung satu-satu gerat halus di wajahmu, menyelami bola matamu, dan mencubit tanganmu sesekali. ;tentu saja, aku sangat pandai merahasiakan kekaguman itu, ;sebab helainya kini sedang kurindukan dan sulit kuredam dengan apik. Kau pun seketika tak lagi banyak bicara, diam, dan sesekali memalingkan wajah itu. apa kita sedang merona berdua? atau jangan-jangan hanya aku saja? kemudian kita pulang dengan banyak monolog dengan tanda tanya. Mungkin aku 𝒋𝒂𝒕𝒖𝒉 𝒄𝒊𝒏...

Terhenti Pada Titik

Aku kira setelah bertahun-tahun aku memilih sendiri dan akhirnya aku memilih untuk kembali menerima ketukan seseorang akan menjadikan aku kembali pulih pelan-pelan. Aku kira, aku akan mendapatkan rumah tempat aku pulang dari lelahnya kehidupan. Ternyata tidak, seseorang yang aku kira akan menjadi rumah nyaman tempat aku bercerita malah menjadikanku sepi yang sama saja. Aku tetap merasa harus berjuang sendirian, aku tetap harus berjalan sendirian, dan aku harus tetap menyeka lelahku sendirian.  Jika sibuk adalah alasanmu, lalu kapan kita bisa bersua? Kabar tentang kau pulang saja sudah tidak lagi aku dengar meski ini adalah hal sederhana yang bernilai besar bagiku. Entah komunikasi ataupun pertemuan, semuanya berangsur hilang dari permukaan.  Dan aku tetap di sini, menyimpan banyak cerita yang lagi-lagi harus aku telan sendirian. Sebab nyatanya, kamar adalah bentuk dari tubuh yang selalu setia mendengarkan tawa dan tangis setiap malamnya. Terima kasih, sebab pertemuan di siang ...

Tanpa Judul

Hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu akan berdampak hingga kapanpun. Hal ini tuh kerasa banget, makin kesini bukannya lupa, malah semakin nampak jelas. Ada banyak ketakutan untuk sekadar mengenal orang baru. Takut tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan, takut tidak diterima dengan apa yang kupunya. Berat banget rasanya.  Kenapa perasaan itu ada? karena aku pernah, bahkan berkali-kali tidak diterima dengan baik oleh lingkungan karena fisik yang tidak menarik. Berkali kali aku harus menelan semua yang aku terima bertahun-tahun. Setiap kali aku mendapatkan "omongan jahat" itu, aku selalu menerimanya dengan pasrah dan sadar diri. Speak up? ah rasanya akan sulit, yang ada nanti malah dibilang baperan hehe diteriakin jelek, ga diajak, gaada tebengan, atau bahkan obrolan yang mengarah tentang fisik yang tidak menrik inilah yang aku terima dari tahun ke tahun. Capek rasanya, sebelum tidur selalu kebayang masa-masa itu, suara-suaranya masih berisik dalam kepala. Bahkan masih nam...

Rumpang

Sesekali, kau perlu sambangi kursi itu Ia lengang dimakan waktu Sedang kopi dan teh itu,  masih utuh meski asapnya hilang ditelan abai Televisi adalah teman langgeng tempat ia berdamai meski berdebu, ia tetap nyala dalam tenang Bentuk guratannya semakin nampak tersurat raut senyumnya masih menyala dengan hangat Pun tangannya, Ia masih mampu menuntunmu dengan sentosa Meski langkahnya renta tertelan usia  Jemalanya penuh sudah Rimba dipenuhi memori hari tua yang lelah Ia masih di sana, duduk dengan remote yang cacat Menunggu ketukan yang dibuka tanpa syarat Pulanglah, dengan atau tanpa euforia Mereka hanya perlu anaknya ada bukan rupiah apalagi takhta Pulanglah, beri jeda dari jarak yang sudah rumpang 

Tertinggal

Pernah gak kamu merasa tertinggal? Merasa bahwa kamu hanya berjalan di tempat sendirian, sedangkan teman-temanmu sudah berjalan lebih depan dari dirimu.  Semua nampak menyedihkan, bahkan keadaan mungkin sudah memaksamu untuk menarik diri lebih sadar lagi. Bahwa inilah waktunya kita berbenah, melewati banyak hal sendirian. Sebab rasanya, dirimu sendirilah yang mampu membersamai.  Semua berjalan dan berlari melampaui dirimu, meninggalkan dan nampak tidak akan peduli seberapa jatuhnya kamu. Peluk saja tubuhmu sendiri, usap saja air matamu sendiri, dan berterimakasihlah pada dirimu sendiri. Kamu akan tumbuh dengan segala proses yang kau lalui. Cepat atau lambat, fase ini akan kau lewati dengan baik. Jangan berhenti lantas menyerah, ya?

Aliran Duka

Hidup akan tetap berjalan, apapun yang terjadi Begitupun dengan patah hatimu hari ini Perasaan yang kau dekap diam-diam Harus berakhir duka dalam-dalam Bisakah kupeluk tubuh itu? Ia sudah berantakan dengan amat Pada wajahnya, ia masih mengalirkan duka Dan dadanya masih berdegup menahan luka   Pada tembok kamarnya, Tersimpan banyak memori paling rahasia Ia menjadi saksi atas segala keluh yang tersisa Seluruhnya terekam dengan sempurna tanpa ia paksa   Bisakah kubagi separuh duka ini? Entah pada meja yang pernah bersulang tawa Atau pada cermin tempat kita bertegur sapa Namun percayalah, aku sudah menyiapkan satu porsi tabah yang tak kalah besar dari setiap harapan yang aku dekap dalam-dalam.

Menjemput Tenang

Pagi ini, kita tertinggal lagi dari pembebasan diri. Ia seperti jarum jam yang mati tanpa daya, ia berputar tanpa arah. Seperti anak yang berdusta pada titah seorang ibu. Berjalan keluar rumah dan berbaring di pelataran jalan dan berharap mati kelaparan. Dalam kepalanya bergeriliya, ia hampir lupa. Bahwa dunia tidak sesempit kamar rumahnya. Malam ini, ia mulai bangun dari kepasrahannya. Melihat seisi kamar yang masih utuh, belum terjamah oleh ketenangan. Ia menghadap tembok, berbicara dengan sukarela. Sebab ia tau, pada tembok inilah semua memori terekam dengan jeli. Entah tangisan ataupun amarah, semua disaksikan tembok kamar yang berdiri tanpa kaki. Entah sudah berapa lembar kalender yang ia lewatkan, sebab ia sudah tak lagi peduli pada waktu yang hanya bergeser tanpa mau menunggunya kembali pulih. Pada rumahnya, ia lupa arah menuju pintu keluar. Ia lupa bagaimana warna cahaya matahari yang harusnya masuk melalui celah antara jendela dan kain gorden. Matanya basah lagi, ia tida...

Tubuh yang harus kurengkuh

Apa yang tersisa dari tangisanmu malam tadi? Mata sembab atau asa yang luruh tanpa jeda? Ia abu-abu, entah pura-pura atau bahagia sungguhan. Bisakah kita bicara sebentar? Kepada tembok kamar yang diam-diam menjadi tempat paling rahasia. Ia menyimpan banyak memori, tentang bagaimana ia menyaksikan sosok yang menangis di balik selimut sesenggukan. Di atas bantal yang ia jadikan topangan kepala yang penuh dengan beban. Tidak ada cahaya apapun, meski sesekali ponsel itu berdering dengan senyap. Bisakah kupeluk dahulu tubuh itu? Aku ingin memastikan, bahwa hidup bukan tentang gagal lagi dan berhenti. aku ingin menepuk pundak yang semakin menyusut itu, ada harapan yang perlu diraih lagi. Sebab hidup masihlah panjang. Kita perlu bergerak dan bertumbuh. Bukan diam dan mati memungut pasrah. Tetaplah menjadi dirimu dengan versi terbaru yang jauh lebih baik lagi. Selamat mengarungi usia, ia tidak abadi. Namun ia layak kau beri kesempatan lagi. 

Perempuan Atas Haknya

Perempuan, tidak hanya dihadapkan pada pilihan, perempuan seringkali dihadapkan oleh tekanan sosial yang lahir dari stigma masyarakat. ada kalanya perempuan terjebak dalam lingkungan yang menganut stigma kuno. Perempuan yang kakinya terikat oleh pilihan, ia harus memilih antara menjadi ibu rumah tangga atau mengejar karir yang tinggi. Perempuan yang langkahnya menjadi sempit, ia diterkam kebebasannya dalam mencari relasi dan wawasan. Perempuan yang pendidikannya terputus, ia dilucuti oleh realitas kuno yang mana perempuan hanya akan berakhir di dapur belaka.  Padahal, jauh dari itu semua. Perempuan berhak atas pilihannya sendiri, bukan atas tuntutan dan tekanan yang membuat bahunya menjadi nampak terlihat lemah. Perempuan, entah memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, wanita karir ataupun menjadi keduanya adalah sebuah pilihan yang lahir atas kehendaknya sendiri.  Perempuan berhak atas segala mimpi dan cita-citanya, ia berhak memiliki suara yang sama dengan laki-laki. Perempua...
Dalam kepalaku,  ada banyak narasi di kepala tentang pertukaran perasaan yang lagi-lagi gagal untuk tuntas. alih-alih kuperas air mataku lamat-lamat kulempar dengan pasrah pada langit yang sendu sedari pagi Mungkin, kau akan bertanya sudah kenyangkah aku dengan kegagalan? Seolah-olah harapan yang kugenggam memiliki sembilan nyawa ia kuat, lebih kuat dari hari kemarin Ia tertawa dengan girang, memungut kilat yang berceceran diambang langit menuju sore Aku, masih tersungkur dengan perasan air mata yang tak jua habis pun mati Ia masih kuat, menggendong harapan yang tak habis dibunuh oleh realitas

Utuh atau Separuh

Kamu adalah buku yang sulit aku baca. Namun nyatanya, melalui seutas sinopsis yang kubaca ini, akhirnya aku menaruh hati dengan tiba-tiba. Jika berkenan, bolehkah aku membacanya dengan seksama hingga selesai? Setelah itu kau boleh kembali, sebab aku tau bahwa kamu memang tidak bisa aku miliki dengan utuh ataupun separuh. Kamu, sesuatu yang hanya bisa aku lihat dengan samar. Banyak lembar yang ingin aku baca, melafalkan daftar isi yang telah mencuri perhatianku akhir-akhir ini. Jika selesai sudah aku membacanya, aku akan tau seberapa pantas aku untuk memiliki buku ini. Ah, apa mungkin bukunya sudah dimiliki dengan penuh?  Mungkin aku adalah seorang pembaca yang penakut. Sebab, untuk sekadar menatapnya saja aku ragu. Apa lagi membaca dengan seksama. Aku takut menemukan bab yang berisi tentang seseorang yang kau cintai. Aku belum begitu siap untuk jatuh dan terkapar dengan patahan harapan yang kupunya. Tidak apa-apa, aku cukup tau untuk ini. Terima kasih, ya? Sudah mampir di beberapa ...

Untuk Pertama Kalinya

"Ibu, aku pulang ke Bandung, ya?" Percakapan singkat tentang pulang kepada rumah yang sesungguhnya. Hujan malam ini menuntun kepada duka yang tak berjeda. Jalanan sudah basah, kereta yang membawaku kini sepi dimakan waktu, namun kepalaku riuh membawa dialog antara luka dan kehilangan tadi pagi. Tidak ada yang kukantongi untuk oleh-oleh, sebab tangisan sudah kubawa sebagai bingkisan.  Jauh sebelum hujan luruh dengan deras malam ini, sudah kupersiapkan obat tidur untuku di perjalanan. Sebab aku tahu, perjalanan malam ini akan terasa panjang dan melelahkan.  Kereta yang kutumpangi seakan berjalan terbata-bata. Ia melaju dengan payah, tanpa peduli sudah berapa banyak air mata yang ingin aku tumpahkan pada pelukan yang paling aku butuhkan saat ini.  Belum sampai di pemberhentian pertama, aku sudah lebih dulu terbangun dari tidur yang amat sesak. Kereta, bisakah kau melaju lebih cepat? tangisku sudah kering, namun luka yang kubawa sudah semakin menganga dan amat perih. "Bu, an...

Melawan Ketidakberdayaan

Perempuan dengan segala stigma yang melekat pada diri mereka. Stigma yang lahir dari mulut rahim masyarakat pun sanak saudara. Mereka menganggap bahwa perempuan yang baik adalah mereka yang menikah sebelum usia 25 tahun. Perempuan, sering dihadapkan oleh pilihan yang sebenarnya bisa mereka ambil keduanya. Sejatinya, perempuan memiliki hakikat mengandung, melahirkan, merawat anak dan melayani suami. Namun, apakah hal tersebut menutup kemungkinan jika seorang perempuan bisa mencapai pendidikan dan karir yang tinggi?.  Perempuan berhak untuk mencapai pendidikan dan karir yang tinggi. Sebagaimana impian mereka masing-masing sedari dini. Perempuan berhak bersuara lantang melawan ketidakadilan yang lagi-lagi berpihak pada mereka yang memiliki kekuatan, perempuan berhak melangkah jauh untuk mencapai impian mereka, perempuan berhak melawan ketidakberdayaan yang kini nyata di depan mata. Bagaimana bisa, jika pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dianggap sebagai hal yang tidak perlu di...

SINERGI TOLERANSI DI MASA PANDEMI

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata “Pandemi?” Pandemi seringkali mengingatkan kita banyak hal, termasuk kesulitan. Kesulitan di masa pandemi menanggalkan banyak cerita duka dari berbagai kalangan. Menurut data yang dipublikasikan oleh Tempo.co bahwa jumlah pekerja yang terkena PHK selama bulan Juni 2020 telah mencapai 3,05 juta. Namun, rilis terbaru yang dikeluarkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) jumlah pekerja yang di PHK terdapat 24 juta   sampai dengan tanggal 9 Agustus 2021. Hal tersebut berakibat terhadap ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di desa maupun di kota. Tidak sedikit masyarakat yang masih memilki finasial yang stabil ikut urun tangan untuk saling membantu satu sama lain. Berbagai donasi dari berbagai komunitas maupun pribadi ini lahir untuk semua orang yang layak untuk dibantu. Tidak terbatas oleh perbedaan apapun. Pandemi ini sekaligus menguji kepekaan kita terhadap sesama, sekaligus menjadikan kita untuk lebih mengerti, bahwa ap...